UMT DAN VISI PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd. M. Pd
(Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Kemuhammadiyahan
Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Beragam diskursus tentang kiprah persyarikatan Muhammadiyah menjelang usia satu abad telah banyak mengundang komentar yang mengundang kritik di satu sisi, namun tidak sedikit yang memuji.. ragam kritik yang dilontarkan cenderung konstruktif karena kebanyakan pengkritik meyakini, bahwa the great non-organization in Indonesia (organisasi kemasyarakatak terbesar di Indonesia) itu sejatinya mampu berkontribusi lebih besar lagi dengan mempertimbangkan kelebihan manajemen dan SDM yang dimiliki.
Komentar-komentar bernada pujian acap dilatari oleh penglihatan atas kiprah dan kontribusi Persyarikatan Muhammadiyah sejauh ini sudah mengartikulasi harapan dan keinginan banyak masyarakat untuk terwujudnya tujuan-tujuan luhur the founding fathers Muhammadiyah. Ribuan sekolah mulai dari tingkat pra-sekolah dasar hingga Perguruan-perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) tersebar di berbagai penjuru nusantara. Ribuan klinik kesehatan, Puskesmas hingga Rumah Sakit berstandar Internasional turut berkontribusi bagi pembangunan Indonesia yang sehat dan terdidik.
Menarik untuk melihat bagaimana kontribusi berikutnya dari Persyarikatan Muhammadiyah seusai perhelatan akbar usia satu abadnya beberapa bulan kedepan. Dan bagaimana Persyarikatan Muhammadiyah Kota Tangerang nanti seiring dengan telah berdirinya Universitas Muhammadiyah Tangerang yang merupakan ikon baru pusat pendidikan berkualitas di Kota Tangerang sekaligus Propinsi Banten, utamanya dalam upaya meningkatkan komitmen pengabdian kepada masyarakat, baik di tingkat lokal, nasional, regional bahkan bukan tak mungkin berskala internasional.
Mengabdi tanpa pamrih
Sejak kelahirannya pada pada 08 Dzulhijah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M, Muhammadiyah melatari gerakanya dan dan mengutamakan visi pengabdian, pemberdayaan, pendidikan, dan pencerahan pada masyarakat tanpa pamrih. Konsep dasar yang di ajarkan oleh KH Ahmad Dahlan untuk membesarkan Muhammadiyah tertuang dalam kata-kata bijak yang nyaris selalu diungkapkan dalam berbagai kesempatan, live for Muhammadiyah and not life from Muhammadiyah (Hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan dari Muhammadiyah).
Hal ini tentu bisa menjadi contoh bagi berbagai organisasi kemsyarakat lain yang didirikan sekedar memberikan keuntungan kepada para pengurus dan keluarga pendirinya, atau dapat menjadi pelajaran bagi para penguasa dan penyelenggara negara yang kebanyakan hanya berdasarkan asas pemanfaatan, penguasaan, serta pemenuhan kepentingan pribadi atau golongannya. Karena pada prinsipnya penyelenggara negara adalah pelayan yang diberikan amanah untuk mendahulukan kepentingan rakyat bukan memperkaya diri atas nama rakyat.
Berkaitan dengan agenda pembangunan dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Muhammadiyah, tulisan Amir Shakib Arslan yang berjudul “Limadaza Ta’akharra al-Muslimun Wa Taqaddama Ghoiruhum” ( Islam in Transition:Muslim Perspectives , 2007), menarik untuk dicermati dan dipelajari. Menurut Sakib Arslan, yang menjadikan kaum Muslimin mundur sedangkan bangsa lainnya maju, adalah karena mereka banyak yang lebih suka berdoa daripada berusaha, merasa menjadi umat yang paling mulia tanpa mau belajar dari yang lainnya, kurang menghargai umat agama lain, tidak mau belajar dari kemajuan Barat dan bangsa-bangsa lainnya, dan tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bersaing dan berkompetisi dengan umat dan bangsa lain.
Kenyataan yang begitu memiriskan hati tersebut, tentu relevan dengan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim. Sudah saatnya, karakter bangsa Indonesia yang mayoritas muslm ini harus dirubah dan “dipaksa” menjadi bangsa yang kuat, percaya diri, unggul, bekerja keras, dan mampu berkompetisi dengan bangsa lainnya. Karakter itu, hendaknya menjadi jatidiri dan pegangan warga Muhammadiyah demi untuk memajukan bangsa Indonesia tercinta ini. Karakter yang telah terbukti meneguhkan dan mencerahkan Parsyarikatan Muhammadiyah mencapai usia emasnya, satu abad.
UMT dan Pengabdian Tiada Henti
Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) yang merupakan amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah Tangerang, tak mau ketinggalan berupaya mewujudkan cita-cita luhur Muhammadiyah untuk memberikan pengabdian total tanpa henti demi kemajuan, peningkatan taraf hidup dan kualitas masyarakat, peneguhan dan pencerahan masyarakat melalui berbagai aktivitas sebagai bagian dari semangat al-da`wah ila al-khyar wa an nahyu anil munkar.
Dan Setelah izin operasional pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang diterbitkan oleh Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional berdasarkan SK Mendiknas RI No. 109/D/O/2009 tentang Izin Operasional Universitas Muhammadiyah Tangerang, maka kontribusi dan donasi Muhammadiyah Tangerang untuk pengabdian pada masyarakat dipastikan makin massif dan intensif. Sebab sejak Persyarikatan Muhammadiyah diperkenalkan di Tangerang, prinsip mengabdi dan bekerja keras yang didasarkan pada pesan Al Qur`an dan As-Sunnah untuk berbakti pada umat (amal shaleh) sudah dimulai.
Harapan bahwa UMT dapat berperan dalam memberi arah pada perubahan dan menjadi agen perubahan memiliki konsekuensi bahwa gagasan dan pemikiran UMT harus dapat disebarluaskan dengan cara memberi peluang sebesar-besarnya agar gagasan dan pemikiran tersebut dapat diakses oleh masyarakat luas. Fungsi Muhammadiyah untuk amar makruf nahi munkar untuk menciptakan masyarakat utama menjadikan sumberdaya dan keahlian universitas untuk dapat diakses oleh perguruan tinggi, lembaga-lembaga pemerintah dan swasta, industri, dan masyarakat luas untuk mendukung upaya-upaya pengembangan bidang sosial, ekonomi, budaya, dan kesejahteraan, baik dalam tingkat lokal maupun nasional.
Sasarannya adalah meningkatkan efektifitas data-base dan sistem informasi kepakaran, hasil penelitian, rekayasa teknologi, dan jasa yang mudah diakses oleh pengguna. Selain upaya untuk meningkatnya kerjasama dengan berbagai pihak dalam penerapan sains dan teknologi. Untuk itu diperlukan strategi agar tujuan luhur tersebut di atas bisa dicapai, yaitu dnegan meningkatkan manajemen sistem informasi sumberdaya (fasilitas) dan kepakaran, hasil penelitian, rekayasa teknologi, dan jasa. Dan Meningkatkan relevansi program akademik dengan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya, baik lokal maupun nasional. Serta meningkatkan efektivitas program akademik.