KONTROVERSI SEPUTAR MASUKNYA ISRAILIYAT
DALAM PENAFSIRAN ALQURAN
Oleh : Zulfiqor
Magister Studi Islam
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Email : zulpiqorbanten@yahoo.com
Blog : http://www.zulpiqorbanten.wordpress.com

A.Pengantar
Al-Quran diturunkan sebagai petujuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan (sebagai) pembeda antara yang haq dan bathil (QS Al Baqoroh:185). Dan sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh.. (QS Al Isra’: 9). Karenanya al-Quran selalu menjadi referensi utama bagi umat Islam di dalam memahami dan mengamalkan ajaran yang dibawa oleh pemegang risalah-Nya, Muhammad SAW. Di zaman Rasululloh masih hidup, umat Islam tidak banyak menemukan kesulitan dalam memahami petunjuk guna mengarungi kehidupannya, sebab manakala mereka menemukan kesulitan dalam satu ayat misalnya, mereka akan langsung bertanya kepada Rasulullah SAW.
Teks al-Qur’an adalah wahyu Allah yang tidak akan berubah oleh campur tangan manusia, tapi pemahaman terhadap al-Qur’an tidak tetap, selalu berubah sesuai dengan kemampuan orang yang memahami isi kandungan al-Qur’an itu dalam rangka mengaktualkannya dalam bentuk konsep yang bisa dilaksanakan. Dan ini akan terus berkembang sejalan tuntutan dan permasalahan hidup yang dihadapi manusia, maka di sinilah celah-celah orang yang ingin menghancurkan Islam berperan. Sebagai petunjuk, tentunya al-Qur’an harus dipahami, dihayati dan diamalkan oleh manusia yang beriman kepada petunjuk itu, namun dalam kenyataannya tidak semua orang bisa dengan mudah memahami al-Qur’an, bahkan sahabat-sahabat Nabi sekalipun yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah. struktur bahasa dan kosa katanya.
Pada masa Rasulullah SAW hidup, umat Islam tidak banyak menemukan kesulitan dalam memahami petunjuk dalam mengarungi hidupnya, sebab manakala menemukan kesulitan dalam satu ayat, mereka akan langsung bertanya kepada Rasulullah saw dan kemudian Beliau menjelaskan maksud kandungan ayat tersebut. Akan tetapi sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam banyak menemukan kesulitan karena meskipun mereka mengerti bahasa Arab, al-Qur’an terkadang mengandun isyarat-isyarat yang belum bisa dijangkau oleh pikiran orang-orang Arab. Oleh karena itu mereka membutuhkan tafsir yang bisa membimbing dan menghantarkan mereka untuk memahami isyarat-isyarat seperti itu.
Merebaknya berbagai kabar burung yang dibawa oleh kaum muslimin yang sebelumnya merupakan orang-orang Yahudi dan Nasrani ini kemudian di kenal dengan istilah Israiliyat dan secara sporadis memang beredar di kalangan para sahabat sampai pada masa tabiin. Ironisnya , israiliyat ini tertulis di banyak kitab-kitab tafsir. Terlepas dari tujuan Mufassir yang bermaksud menceritakan tentang munculnya israiliyat itu, yang jelas oleh beberapa Ulama’ tafsir dan peneliti Israiliyat, belakangan kajian ini secara serius di teliti guna menjauhkan umat dari bercampurnya berita yang layak/benar (khabar) dan berita maupun cerita yang belum tentu benar.
Langkah pertama yang mereka ambil adalah melihat pada hadits Rasulullah saw, karena mereka berkeyakinan bahwa Beliaulah satu-satunya orang yang paling banyak mengetahui makna-makna wahyu Allah. Disamping itu, mereka mengambil langkah dengan cara menafsirkan satu ayat dengan ayat lainnya, langkah selanjutnya yang mereka tempuh adalah menanyakannya kepada sahabat yang terlibat langsung serta memahami konteks posisi ayat tersebut. Manakala mereka tidak menemukan jawaban dalam keterangan Nabi atau sahabat, mereka terpaksa melakukan ijtihad dan lantas berpegang kepada pendapatnya sendiri, khususnya yang mempunyai kapasitas intelektual yang mumpuni seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Mas’ud.
Selain bertanya kepada para sahabat senior sumber informasi bagi penafsiran al-Qur’an, mereka bertanya juga kepada ahli kitab, yaitu kaum Yahudi dan Nashrani. Hal itu mereka lakukan lantaran sebagian masalah dalam al-Qur’an memiliki persamaan dengan yang ada dalam kitab suci merkaa, terutama berbagai tema yang menyangkut umat-umat terdahulu. Penafsiran seperti ini terus berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia dan kebutuhannya akan urgensi al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupannya sedemikian sampai-sampai tanpa disadari bercampurlah tafsir dengan Israiliyat.
Adanya Israiliyat dalam kitab-kitab tafsir Al-Quran merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Sejak periode tadwin sampai sekarang berpuluh-puluhmacam kitab tafsir telah dihasilkan oleh para pengabdi Al-Quran. Namun,sebagian besar di dalamnya ada yang dikenal dengan istilah Israiliyat´, yangdianggap sebagai unsur-unsur Yahudi dan Kristen dalam penafsiran Al-Quran. Harus diakui bahwa intensitas pemuatan Israiliyat dalam kitab-kitab tafsir tersebut tidaklah sama sesuai dengan sikap atau pandangan penulisnyaterhadap masalah itu. Dalam tafsir Al-Manar misalnya, penulisnya sangat getol menghantam keberadaan Israiliyat dalam kitab-kitab tafsir terdahulu, ternyata di dalamnya terdapat pula sumber-sumber Israiliyat dalam menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran.
Kenyataan ini mengandung suatu pertanyaan pokok yang mendasar, apa sebenarnya pengertian (definisi) Israiliyat sebagai suatu terminologi dalam ilmu tafsir Al-Quran. Kehadiran israiliyyat dalam penafsiran al-Qur’an itulah yang, menjadi ajang polemik dikalangan para ahli tafsir al-Qur’an. Karenanya, makalah ini akan membahas tema israiliyat dari sudut apa pengertian israiliyyat, bagaimana proses masuk dan berkembangnya israiliyyat dalam tafsir dan bagaimana pengaruh israiliyyat dalam penafsiran al-Qur’an khususnya terhadap khazanah keilmuan Islam, dengan sedapat mungkin menyajikan beberapa data dan contoh konkrit penafsiran ayat al-Quran yang bercampur kisah-kisah israiliyat.

B. Pengertian Israiliyat
Israiliyat adalah masdar shinaiy dari kata israil´ yang merupakan gelar Nabi Ya’kub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Sementara Nabi Yakub merupakan nenek moyang bangsa Yahudi, karena kedua belas suku bangsa Yahudi yangterkenal itu berinduk kepadanya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Israiliyat´ berarti, seorang raja, pejuang di jalan Allah. Israiliyat adalah lafazh jama’ dan Israiliyah. Menurut Adz-Dzahabi dalam bukunya yang berjudul At Tafsir wal Al-Mufassirun, secara sepintas israiliyat itu mengandung pengertian pengaruh kebudayaanYahudi dalam penafsiran AlQuran. Akan tetapi, dia memberi pengertian yang lebih luas. Secara etimologis, israiliyat adalah bentuk jamak dari kata tunggal israiliyah, yakni bentuk kata yang dinisbatkan pada kata israil yang berasal dari bahasa Ibrani, isra yang berarti hamba dan il yang bermakna Tuhan.
Dalam perspektif historis, Israil berkaitan dengan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, di mana keturunan beliau yang berjumlah dua belas itu di sebut Bani Israil. Ibn Katsir dan lainnya menyebutkan dalil Bahwa Ya’qub adalah Israil melalui hadis riwayat Abu Dawud At-Thayalisi dalam Musnadnya dari Ibnu Abbas bahwa sebagian orang Yahudi mendatangi Nabi Lalu beliau bersabda (kepada mereka)”apakah kalian mengetahui bahwa Israil adlah Ya’qub?” mereka menjawab,”Ya”, dan Nabi bersabda, saksikanlah”. Dan secara terminologis, Ibn Qayyum menjelaskan, bahwa- israiliyah merupakan sesuatu yang menyerap ke dalam tafsir dan hadis di mana periwayatannya berkaitan dengan sumber Yahudi dan Nasrani, baik menyangkut agama mereka atau tidak Dan kenyataannya kisah-kisah tersebut merupakan pembauran dari berbagai agama dan kepercayaan yang masuk ke Jazirah Arab yang di bawa orang-orang Yahudi.
Untuk lebih menjelaskan pengertian ini, Adz-Dzahabi menjelaskan apa yangdimaksud dengan kebudayaan Yahudi dan kebudayaan Nasrani itu. Kebudayaan Yahudi dalam pandangannya berpangkal pada kitab Taurat yangdiberitakan Al-Quran sebagai kitab suci yang di antaranya berisi bermacam-macam hukum syariat yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Musa. Kemudian kitab Taurat digunakan sebagai predikat terhadap semua kitab suci agama Yahudi, termasuk di dalamnya kitab Jabur dan lain-lainnya yangkemudian dikenal dengan sebutan Kitab Perjanjian Lama. Di samping kitab Taurat yang diterima bangsa Yahudi secara tertulis, mereka juga mempunyai pelbagai ajaran dan keterangan yang diterima mereka dan Nabi secara lisan, dan mulut ke mulut.
Kemudian setelah beberapa abad lamanya, ajaran tersebut dibukukan dengan nama Talmud. Selain itu, bangsa Yahudi juga mempunyai kekayaan seni sastra berupa cerita-cerita, legenda-legenda, sejarah, dansebagainya. Semua itu memperkaya apa yang disebut kebudayaan Yahudi´. Adapun kebudayaan Nashrani menurut Adz-Dzahabi berpangkal kepada kitab Injil yang di dalam Al-Quran diberitakan sebagai kitab suci yang diturunkanTuhan kepada Nabi Isa. Sedangkan kitab-kitab Injil yang diyakini di kalangan Nashrani, termasuk surat-surat Rasul, kemudian dikenal dengan Kitab Perjanjian Baru. Di samping itu, mereka mengenal adanya pelbagai keteranganatau penjelasan Injil-Injil tersebut berupa cerita-cerita, berita-berita, ajaran-ajaran yang semuanya mereka anggap diterima dan Nabi Isa. Inilah yangmenjadi sumber kebudayaan Nashrani.
Pengertian Israiliyat yang dikemukakan oleh Adz-Dzahabi ini, tampaknya masihbersifat umum dan bebas nilai. Maksudnya, apa yang diterima dan sumber Yahudi dan Nashrani itu mencakup semua, termasuk di dalamnya cerita-cerita,legenda, sejarah yang menyangkut hukum atau akidah dan lain-lain. Dalam pengertian itu tidak ada penilaian, seperti yang dapat diterima atau yang ditolak.Dalam makalahnya yang berjudul Al-Israiliyat fi Al Tafsir wa Al-Hadis´ yang disampaikan dalam Kongres IV Lembaga Riset Islam Universitas Al-Azhar pada tahun 1968 M, Adz-Dzahabi lebih mengkhususkan pengertian Israiliyat pada cerita atau berita yang diriwayatkan dan sumber Israil (Yahudi). Kekhususan pengertian Israiliyat di sini masih sejiwa dengan pengertian sebelumnya, karena para sahabat Rasulullah pertama kali mengambil Israiliyat dalam penafsiran Al-Quran hanya sebatas cerita-cerita dan berita-berita para nabi terdahulu, atau hal-hal yang tidak berkaitan dengan hukum akidah.
Namun kemudian, Adz-Dzahabi menjelaskan pengertian Israiliyat itu berkembang menuju kepada suatu pengertian yang berkonotasi jelek. Dalam pengertian yang menurut Adz-Dzahabi banyak dipergunakan oleh para ahli tafsir dan hadis ini, menggiring pengertian Israiliyat hanya kepada dongeng-dongeng kuno, baik yang bersumber dan Yahudi, Nashrani, maupun sumber lainnya seperti Persia dan Yunani. Sebagai suatu dongeng, Israiliyat sudah berkonotasi terhadap segala racun yang dimasukkan ke dalam tafsir dan hadis oleh musuh-musuh Islam yang berasal dan Yahudi, Nashrani dan lainnya berupa berita-berita yang dibuat secara sadar oleh musuh-musuh Islam tersebut. Dalam kaitan dengan hal ini, Adz-Dzahabi mengemukakan dua pengertian, yaitu sebagai berikut :
1. Kisah dan dongeng kuno yang menyusup ke dalam tafsir dan hadits, yang asal periwayatannya kembali kepada sumber Yahudi, Nasrani, atau yang lain.
2. Sebagian ahli tafsir dan hadits memperluas lagi pengertian Israiliyat ini sehingga mencakup pula cerita-cerita yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits, yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama
Jika diperhatikan, pengertian Israiliyat terakhir ini tampaknya sudah ke luar dari konteksnya semula, karena sumber Israiliyat mencakup semua sumber yangnon-Islami, baik dan sumber Yahudi dan Nashrani, maupun dan sumber lainnya. Begitu pula pengertiannya terlalu ditekankan kepada penilaian yang bertumpu pada dampak negatifnya, di mana faktor subjektivitas seseorang sangat kuat bermain, sehingga sisi ilmiahnya berkurang. Sebagai contoh aplikasi ayat-ayat dan Perjanjian Lama yang dipergunakan untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Quran tidak dianggap Israiliyat, jika tidak membawa akses bagi akidah kaum Muslimin.
Sebaliknya, bisa saja suatu hadis yang dianggap sahih, namun jika dinilai dapat membahayakan bagi akidah kaum Muslimin, akan dikategorikan Israiliyat. Oleh karena itulah, pengertian Israiliyat yang terakhir ini, kurang tepat dan dapat membawa kepada kekacauan terminologi. Pengertian pertama yang dikemukakan Adz-Dzahabi sendiri, dianggap lebih tepat, karena persyaratan sebagai suatu definisi yang sempurna lebih terpenuhi, khususnyasyarat jami’ dan mani’nya. Bahkan sebagian Ulama Tafsir dan hadis telah memperluas makna israiliyat dengan cerita yang dimasukkan oleh musuh-musuh Islam, baik yang datang dari Yahudi maupun dari sumber-sumber lainnya. Hal demikian itu lalu dimasukkan kedalam tafsir dan hadis, walaupun cerita itu bukan cerita lama dan memang dibuat oleh musuh-musuh Islam yang sengaja akan menrusak akidah kaum Muslimin.
Adapun Ahmad Khalil mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Israiliyat itu ialah kisah-kisah dan riwayat-riwayat dari ahli kitab, baik yang ada hubungannya dengan ajaran-ajaran agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya. Ringkasnya, kisah-kisah itu diriwayatkan dari jalan mereka. Kisah-kisah Israiliyat itu merupakan pembauran dari berbagai agama dan kepercayaan yang merembes masuk ke jazirah Arabia Islam karena memang sebagian kisah-kisah itu dibawa oleh orang-orang Yahudi yang sudah sejak dahulu kala berkelana ke arah timur menuju Babilonia dan sekitarnya serta ke arah barat menuju Mesir. Setelah kembali ke negeri asal, mereka bawa pulang bermacam-macam berita keagamaan yang dijumpai di negeri-negeri yang mereka singgahi.
Walaupun kata Israiliyat pada lahiriahnya menunjukkan makna riwayat yang bersumber pada kalangan Yahudi, dalam realitas peristilahan ahli tafsir dan hadits mencakup juga riwayat yang bersumber dari kalangan Nasrani. Hal ini karena memang unsur Yahudi inilah yang lebih populer dan dominan dalam periwayatannya. Popularitas dan dominasi unsur Yahudi ini sebagian besar disebabkan oleh mereka yang meriwayatkan kisah-kisah itu terdiri dari orang Yahudi yang memeluk agama Islam atau karena menonjolnya peranan mereka di samping hubungan mereka dengan kaum muslimin cukup dekat sejak masa permulaan Islam.

C. Israiliyat dalam Dimensi Sejarah
Dalam membahas Israiliyat, akan sulit melepaskannya dan dimensi sejarah.Sebab, aspek dari Israiliyat dapat membatu tegaknya Israiliyat pada proporsi sebenarnya, sehingga dapat diberikan penilaian seobjektif mungkin. Hanya saja,sejarahnya sangatlah luas, sehingga di sini hanya akan dibatasi pada dua hal yang dianggap penting, yaitu, latar belakang sejarah masuknya Israiliyat kedalam penafsiran Al-Quran dan mengenal beberapa tokoh penting di sekitar Israiliyat pada masa yang pertama.
1. Latar Belakang Sejarah
Menurut Adz-Dzhabi salah satu sumber tafsir Al-Quran pada masa shahabat adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). Pendapat ini tampaknya didasarkanatas fakta sejarah bahwa sementara tokoh-tokoh mufasir Al-Quran pada masaitu ada yang bertanya dan menerima keterangan-keterangan dan tokoh-tokoh Ahli Kitab yang telah masuk Islam, untuk menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Al-Quran. Ibn Abbas, yang terkenal sebagai tokoh mufasir terkemuka padamasa itu, banyak juga mempergunakan sumber ini dalam karya tafsirnya. Berdasarkan pendapat ini, masuknya Israiliyat ke dalam penafsiran Al-Quransudah dimulai sejak masa sahabat, yaitu sesaat setelah Rasulullah wafat. Jikadikaji faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi tindakan para sahabat tersebut, dapat dikategorikan dalam dua aspek besar, kultural dan struktural pada masa itu.
Yang termasuk aspek kultural, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :
a. Secara umum kebudayaan bangsa Arab, baik sebelum maupun pada masa lahirnya agama Islam, relatif lebih rendah ketimbang kebudayaan Ahli Kitab, karena kehidupan mereka yang nomad dan buta huruf.Meskipun pada umumnya Ahli Kitab di Arabia juga tak terlepas dankehidupan nomad mereka, namun mereka relatif lebih mempunyai ilmu pengetahuan, khususnya tentang sejarah masa lalu seperti diketahui olehumumnya Ahli Kitab waktu itu. Oleh karena itu, wajar adanyakecenderungan kebudayaan yang rendah menyerap kebudayaan yang lebih tinggi jika keduanya bertemu dalam suatu dimensi ruang dan waktu tertentu.
b. Isi al-Quran di antaranya mempunyai titik-titik persamaan dengan isi kitab-kitab terdahulu seperti Taurat dan Injil yang dipegang oleh Ahli Kitab pada masa itu, terutama pada cerita-cerita para nabi dan rasul terdahulu yang berbeda dalam penyajiannya. Pada umumnya, Al-Quran menyajikan secara ijaz, sepotong-sepotong disesuaikan dengan kondisi, sebagai nasihat dan pelajaran bagi kaum Muslimin. Sedangkan dalam kitab suci Ahli Kitab penyajiannya agak lengkap seperti dalam penulisan sejarah.Oleh karena itu, wajar jika ada ke-cenderungan untuk melengkapi isi cerita dalam Al-Quran dengan bahan cerita yang sama dan sumber kebudayaan Ahli Kitab.
c. Adanya beberapa hadits Rasulullah yang dapat dijadikan sandaran oleh para sahabat untuk menerima dan meriwayatkan sesuatu yangbersumber dan Ahli Kitab, meskipun dalam batas-batas tertentu yangdapat dipergunakan untuk menafsirkan al-Quran
Sedangkan dari aspek struktural dapat dikemukakan antara lain :
a. Struktur pemukiman penduduk Arabia waktu itu, di mana kaum Ahli Kitab memiliki pemukiman yang berbaur dengan penduduk asli sejak lama. Menurut sejarah, terjadinya perpindahan penduduk Ahli Kitab dari daerah Syam ke Arabia diawali sejak tahun 70 M. Mereka memasuki Arabia melepaskan diri dari keganasan Kaisar Titus dari Romawi yang telah membakar habis bait Al-Maqdis. Malah pada waktu Madinah sudah menjadi ibu kota negara yangdipimpin Rasulullah SAW., bangsa Yahudi memiliki pemukiman-pemukiman di sekitar kota. Adanya pembauran pemukiman ini dengan sendirinya membawakepada adanya pembauran di bidang kebudayaan.
b. Adanya rute perdagangan bangsa Arab khususnya bangsa Quraisy yangberpusat di Mekah sejak masa Jahiliyah ke utara dan ke selatan pada musim-musim tertentu, mengakibatkan pertemuan mereka dengan orang-orang Ahli Kitab di ujung rute-rute perdagangan tersebut. Hal ini memungkinkan adanya pengaruh kebudayaan Ahli Kitab kepada kebudayaan bangsa Arab.
c. Struktur sosial umat Islam sejak masa Rasulullah, termasuk di dalamnyaorang-orang Ahli Kitab yang telah menganut agama Islam. Malah di antaratokoh-tokoh mereka di kalangan Ahli Kitab itu mendapat kehormatan pula dalam masyarakat Islam. Sangatlah wajar apabila para sahabat menggunakan ilmu pengetahuan mereka yang lebih tinggi tentang cerita-cerita para nabi di kalangan Bani Israil yang juga ada di kalangan masyarakat Islam sendiri, untuk memperjelas bagian-bagian tertentu dan cerita-cerita yang ada dalam al-Quran.
Meskipun di antara mufasirin pada masa sahabat ada yang mengambil sumber dan Ahli Kitab dalam menafsirkan Al-Quran, jumlahnya masih sedikit sekali danhanya dalam batas-batas kebolehan yang digariskan Rasulullah berdasarkanhadis yang mereka pegang. Misalnya, mereka tidak menanyakan dan sumber itu tentang masalah hukum dan akidah, kecuali hanya untuk konfirmasi semata.Mereka hanya menanyakan penjelasan terhadap cerita-cerita dalam Al-Quranyang bersifat mujmal. Mereka tidak menerima penjelasan Ahli Kitab yangbertentangan dengan hukum dan akidah yang sudah ditetapkan.
Sedangkan pada masa tabi’in makin banyak kalangan Ahli Kitab yang memeluk agama Islam, dan makin besar kecenderungan para mufasirin masa itu untuk mengambil Israiliyat; maka sumber Ahli Kitab makin banyak dipergunakan.Bahkan pada masa itu, mereka kurang memerhatikan kebenaran sumber danisinya, sehingga bercampur antara yang hak dan yang batil, yang benar danyang bohong, serta yang logis dan tidak logis. Di antara mereka adalah Muqatil Ibn Sulaiman dan Muhammad bin Ishaq. Meskipun kedua karya mufasirin itu tidak ditemukan sampai sekarang, namun kemudian datang Ibnu Jarir Ath-Thabari yang banyak mengambil riwayat dan mereka dan memasukkannyadalam kitab tafsirnya yang terkenal itu.
2. Tokoh-tokoh Periwayat Israiliyat
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa kecenderungan para mufassir mengambil israiliyat makin besar di masa Tabi’in, tentu saja peran Ahli Kitab dalam memberikan kontribusi israiliyat makin tak terbendung. Disinilah kemudian terjadi bercampuraduknya israiliyat yang benar atau yang autentik sanad nya dan yang salah atau yang tidak ada dasar yang jelas. Dari mayoritas sumber maupun ‘kebanyakan riwayat’ (istilah AlQaththan), israiliyat selalu dikaitkan dengan empat tokohnya yang ternama, yaitu; Abdullah Ibn Salam, Ka’ab al Akhbar, Wahb bin Munabbih, dan Abdul Malik Ibn Abdul ‘Aziz Ibn Juraij.
Berikut ini akan dikemukakan selintas tentang identitas keempat tokoh tersebut, terutama penilaian ahli hadis tentang µadalah mereka, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar dan keabsahan riwayat mereka yang dicatat oleh para ahli tafsir yang secara khusus mengkaji masuknya Israiliyat dalam tafsir al-Quran, yaitu sebagai berikut :
a. Abdullah Ibnu Salam.
Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Abdulah Ibn Salam Ibn Harits Al-Israil Al- Anshari. Semula ia bernama Al Hashin´ yang diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah ketika ia menyatakan keislamannya sesaat sesudah Rasulullah tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah. Statusnya cukup tinggi di mata Rasulullah. Ada dua ayat AlQuran yang diturunkan berkenaan dengan dirinya. Dia termasuk di antara para sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga oleh Rasulullah. Dalam perjuanganmenegakkan Islam, dia termasuk mujahid di Perang Badar dan ikut menyaksikan penyerahan Bait Al-Maqdis ke tangan kaum Muslimin bersama Umar ibn Khathab.
Pada waktu Khalifah Utsman Ibn Affan dikepung oleh kaum pemberontak, dia ke luar menemui mereka atas izin Khalifah untuk membubarkannya, tetapi nasihat-nasihatnya tidak didengar mereka, malah diadiancam mau dibunuh. Dia meninggal di Madinah pada tahun 43 H. Sebagai seorang sahabat Rasulullah, Abdullah Ibn Salam juga banyak meriwayatkan hadis dari beliau. Hadis-hadis tersebut diriwayatkan darinya olehkedua putranya yaitu Yusuf dan Muhammad, Auf Ibn Malik, Abu Hurairah, Abu Bardah Ibn Musa, ‘Atha Ibnu Yasar, dan lain-lain.
Imam Al-Bukhari juga memasukkan beberapa buah hadis yang diriwayatkannya dan Rasulullah dalamJami’ Shahih-nya. Dan segi mu’adalah-nya, kalangan ahli hadis dan tafsir tidak ada yang meragukan.Ketinggian ilmu pengetahuannya diakui sebagai seorang yang paling µalim di kalangan bangsa Yahudi pada masa sebelum masuk Islam dan sesudah masuk Islam.
Dalam pandangan Mu’adz Ibn Jabal, ia termasuk salah seorang danempat orang sahabat yang mempunyai otoritas di bidang ilmu dan iman. Kitab-kitab tafsir banyak memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepadanya; di antaranya Tafsir Ath Thabari. Meskipun demikian, dimungkinkan pula bahwa di antara riwayat tersebut ada yang tidak mempunyai sanad yang benar kepadanya.Oleh sebab itu, menurut Adz-Dzahabi, dapat saja ada di antara riwayat-riwayat itu yang tidak bisa diterima.
b. Ka’ab Al-Akhbar.
Nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ka’ab Ibn Mani al-Himyari. Kemudian beliau terkenal dengan gelar Ka’ab al Akhbar, karena kedalaman ilmu pengetahuannya. Dia berasal dan Yahudi Yaman, dan keluarga Zi Ra’in, namun ada pendapat yang mengatakan dari Zi Kila’.
Sejarah masuk Islarnnya ada beberapa versi. Menurut Ibn Hajar, dia masuk Islam pada masa pemerintahan KhalifahUmar Ibn Khathab, lalu berpindah ke Madinah, ikut dalam penyerbuan Islam keSyam, dan akhirnya pindah ke sana pada masa pemerintahan Khalifah UtsmanIbnu Affan, sampai meninggal pada tahun 32 H di Horns dalam usia 140 tahun.Ibn Sa’ad memasukkan Ka’ab Al-Akhbar dalam tingkatan pertama dan tabi’in di Syam. Sebagai seorang tabi’in, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis danRasulullah secara mursal, dan Umar, Shuhaib, dan Aisyah. Hadis-hadisnyabanyak diriwayatkan oleh Mu’awiyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Atha binRabah, dan lain-lain. Dan segi kedalaman ilmunya, beberapa orang sahabat seperti Abu Darda dan Mu’awiyah mengakuinya. Malah menurut Abdullah Ibn Zubair, beliau mempunyai semacam prediksi yang tepat. Dan sekalipun telah masuk Islam, beliau masih tetap membaca dan mempelajari Taurat dan sumber-sumber Ahli Kitab lainnya.
Adapun dan segi ‘adâlah, tokoh ini termasuk seorang yang kontroversi. Namun, Adz-Dzahabi tidak sependapat, malah menolak segala alasan sebagian orangyang menuduh Ka’ab sebagai pendusta, malah meragukan keislamannya. Diaberalasan, antara lain bahwa para sahabat seperti Ibn Abbas dan Abu Hurairah,mustahil mereka mengambil riwayat dan seorang Ka’ab yang pendusta. Malah para muhadditsin seperti Imam Muslim juga memasukkan beberapa hadis dan Ka’ab ke dalam kitab Shahih-nya. Begitu pula yang lainnya seperti Abu Dawud,Tirmidzi, dan Nasai juga melakukan hal yang sama dalam kitab Sunan mereka.
Sehingga menurut Adz Dzahabi, tentu saja mereka menganggap Ka’ab sebagai seorang yang ‘adil dan tsiqah. Di lain pihak, Ahmad Amin dan Rasyid Ridha menuduh Ka’ab sebagai seorang pendusta, tidak dapat diterima riwayatnya, malah berbahaya bagi Islam. Mereka beralasan, karena ada sementara muhadditsin yang sama sekali tidak menerima riwayatnya seperti lbn Qutaibah dan An-Nawawi, sedangkan Ath-Thabari hanya sedikit meriwayatkan darinya, malah dituduh terlibat dalam pembunuhan Khalifah beberapa hari sebelum terbunuh. Akan tetapi, alasan Amin dan Rasyid Ridha yang memperkuat pendapat Ibnu Taimiyah sebelumnya, dibantah tegas oleh Adz-Dzahabi yang tetap beranggapan bahwa Ka’ab al-Akhbar adalah seorang yang cukup ‘adil dan tsiqah. Meskipun demikian, tokoh Ka’ab Al-Akhbar tetap dianggap sebagai tokoh Israiliyat yang kontroversial.
c. Wahab Ibn Munabbih
Nama lengkapnya adalah Abu Abdilah Wahab Ibn Munabbih Ibn Sij Ibn Zinas Al-Yamani Al-Sha’ani. Lahir pada tahun 34 H dari keluarga keturunan Persiayang migrasi ke negeri Yaman, dan meninggal pada tahun 110 H. Ayahnya,Munabbih Ibn Sij masuk Islam pada masa Rasulullah SAW.Wahab termasuk di antara tokoh ulama pada masa tabi’in. Sebagai seorang muhaddits, dia banyak meriwayatkan hadis-hadis dan Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Hudry, Ibn Abbas, Ibn Umar, Ibn ‘Amr Ibn Al-‘Ash, Jabir, Anas dan lain-lain.Sedangkan hadis-hadisnya diriwayatkan kembali oleh kedua orang anaknyayaitu Abdullah dan Abd Al-Rahman, ‘Amr Ibn Dinar dan lain-lain.
Imam Bukhari, Muslim, Nasal, Tirmidzi, dan Abu Dawud memasukkan hadis-hadis yangdiriwayatkan Wahab ke dalam kitab kumpulan hadis mereka masing-masing.Dengan demikian, mereka menilainya sebagai seorang yang ‘adil dan tsiqah. Sebagaimana Ka’ab, Wahab juga mendapat sorotan tajam dan sementara ahli yang menuduhnya sebagai seorang pendusta dan berbahaya bagi Islamdengan cerita-cerita Israiliyat yang banyak dikemukakannya. Akan tetapi, Adz-Dzahabi juga membela Wahab, meskipun dia juga mengakui ketokohan Wahab di bidang cerita-cerita Israiliyat. Namun, dia menganggap pribadi Wahab sebagai sosok yang µadil dan tsiqah sebagaimana penilaian mayoritas (jumhur) muhadditsin, seperti disebut di atas. Di samping itu, diakui pula kealiman dankesufian hidupnya. Dengan demikian, dia juga seorang tokoh yang kontroversial.
d. Abd Al-Malik Ibn Adi’ Al-‘Aziz Ibn Juraij
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Walid (Abu Al-Khalid) Abd Al-Malik Ibn Abd Aziz Ibn Juraiz Al-Amawi. Dia berasal dan bangsa Romawi yang beragamaKristen. Lahir pada tahun 80 H di Mekah dan meninggal pada tahun 150 H. Diaterbilang salah satu tokoh di Mekah dan sebagai pelopor penulisan kitab di daerah Hijaz. Sebagai seorang Muhaddits, banyak meriwayatkan hadis dan ayahnya, Atha Ibn Abi Rabah Zaid Abi Aslam, Az-Zuhri, dan lain-lain.
Sedangkan hadis-hadisnya diriwayatkan kembali oleh kedua orang anaknya yakni, Abd Al-Aziz dan Muhammad, Al-Auzai’ Al-Laits, Yahya Ibn Hanbal yang menilai hadis-hadisnya banyak yang maudhu’. Kelemahannya, menurut penilaian Imam Malik, dia tidak kritis dalam mengambil riwayatnya dari seseorang, sehingga Adz-Dzahabi memperingatkan para mufasirin supayamenghindari masuknya riwayat Ibn Juraij ke dalam karyanya, karena dianggapsebagai suatu karya yang lemah dan tidak mu’tamad.
Demikian, telah diungkapkan identitas beberapa tokoh Israiliyat yang terbesar. Meskipun ada di antara mereka yang dapat dianggap µadil dan tsiqah, untuk dapat menerima riwayat yang disandarkan kepadanya, minimal ada dua pengkajian yang harus didahulukan. Pertama, dan segi sanad; dan kedua segi matan. Kajian pertama lebih diutamakan oleh mufasirin. Dalam hal ini, merekayang disebut terakhir berbeda sikap penilaian terhadap Israiliyat, seperti akan diuraikan selanjutnya.
Para Ulama berbeda pendapat dalam mengakui dan mempercayai Ahli Kitab tersebut; ada yang mencela (mencacat, menolak) dan ada pula yang mempercayai (menerima). Perbedaan pendapat paling besar ialah mengenai Ka’ab AlAkhbar. Sedangkan Abdullah Ibn Salam adalah orang yang paling pandai dan paling tinggi kedudukannya. Karena itu Bukhori dan Ahli Hadis lainnya memegangi dan mempercayainya. Di samping itu kepadanya tidak dituduhkan hal-hal buruk seperti yang dituduhkan pada Ka’ab Al Akhbar dan Wahab ibn Munabih.

D. Pengaruh Israiliyat terhadap Umat Islam
Akibat negatif yang ditimbulkan oleh adanya riwayat-riwayat Israiliyat dalam kitab-kitab tafsir, karena mengandung kebatilan, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Riwayat-riwayat itu dapat merusak aqidah umat Islam sebagai contoh, riwayat yang dibawakan oleh Muqatil maupun Ibn Jarir tentang kisah Nabi Daud As. dengan isteri salah seorang panglimanya, demikian pula kisah Nabi Muhammad Saw. dengan Zainab binti Jahri. Kedua riwayat itu dapat memberikan gambaran yang keji terhadap pribadi-pribadi Nabi yang ma’shum dengan gambaran sebagai manusia yang didukung oleh hawa nafsu.
2. Riwayat-riwayat tersebut dapat memberikan gambaran seakan-akan Islam itu agama khurafat, takhayul yang menyesatkan. Sebagai contoh antara lain ialah riwayat yang dikemukakan oleh Al-Qurthubi dari Ibn Abbas Ra. tentang arti kata Ra’dun:

“Orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi Saw. tentang ‘guruh’ : ‘Apakah sebenarnya guruh itu?’ Nabi menjawab, ‘Guruh itu adalah malaikat yang diberi tugas menjaga awan dengan membawa alat-alat pembakar dari api yang digunakannya untuk mengendalikan awan menurut kehendak Allah’. Kemudian mereka bertanya lagi, ‘Lalu suara yang kita dengar itu sebenarnya apa?’ Nabi menjawab, ‘Suara itu adalah bentakan malaikat tatkala membentak awan sehingga awan itu menurut kepada kehendak Allah’. Kemudian mereka berkata, ‘Engkau benar, wahai Muhammad”

Walaupun riwayat ini cukup menggelikan, terutama bagi para ahli ilmu kealaman, menurut Al-Qurthubi riwayat inilah yang dipegangi oleh kebanyakan ulama
3. Riwayat-riwayat tersebut hampir dapat menghilangkan kepercayaan terhadap sebagian ulama salaf, baik dari kalangan shahabat maupun tabi’in seperti Abu Hurairah, Abdullah ibn Salam, Ka’ab Al-Ahbar dan Wahab ibn Munabbih yang oleh sementara orientalis seperti Goldziher dalam bukunya, Muzahaib Al-Tafsir Al-Islami, diisyukan sebagai orang-orang yang sengaja diselundupkan ke dalam Islam oleh musuh-musuhnya. Tuduhan seruap telah dilontarkan pula oleh beberapa penulis muslim seperti Mahmud Abu Rayyah dalam bukunya, Adwa’ ‘Ala Al-Sunnah Al-Muhammadiyah, dan dengan cara terselubung oleh Dr. Ahmad Amin dalam Fajr Al-Islam. Bahkan Al-Sayyid Rasyid Ridha dalam tafsirnya mengambil sikap yang jauh berbeda sebagaimana dikatakannya: “Dan kebanyakan Israiliyat itu merupakan khurafat dan kepalsuan yang dibenarkan begitu saja oleh para perawi sampai pula oleh sebagian perawi dari kalangan shahabat”
4. Riwayat ini hampir menyita atau memalingkan perhatian manusia dari mendalami maksud diturunkannya Al-Quran menuju kepada pembahasan sepele yang sedikit sekali faedahnya. Sebagai contoh antara lain tentang nama dan warna anjing Ashab Al-Kahf dan nama-nama binatang yang diikutsertakan dalam bahtera Nabi Nuh As. Memang menurut Ibn Katsir, perincian hal tersebut tidak ada faedahnya untuk diketahui. Andaikata hal itu ada faedahnya, niscaya Al-Quran menyebutkannya
5. Riwayat-riwayat tersebut hampir menimbulkan sikap a priori terhadap hampir semua kitab tafsir di kalangan sebagian peminat ilmu tafsir karena, menurut persangkaan mereka, semua kitab itu berasal dari sumber yang sama.
Sebagaimana telah disinggung dimuka, bahwa riwayat israiliyyat sebagian besar dibawa oleh orang Yahudi yang telah masuk Islam. Pada umumnya riwayat-riwayat ini bersifat berhenti (mauquf) sampai sahabat, bukan marfu’ kepada Rasulallah. Informasi israiliyyat pada masa sahabat dan tabi’in pada umumnya dimanfaatkan untuk memberi gambaran yang lebih detil tentang; tafsir al-Qur’an, syarah hadits-hadits, fakta-fakta sejarah, kisah nabi-nabi dan umat terdahulu, dan kejadian alam. Bentuk dongeng atau kisah israiliyyat itu sendiri dapat dicirikan dengan salah satu dari beberapa ciri berikut:
1. Persoalan yang biasa dibahas adalah tentang asal-usul dan rahasia kejadian alam semesta. Seperti penjelasan tentang Qaf (nama sebuah surat dalam al-Qur’an), menurut sebuah riwayat israiliyyat, Qaf adalah nama sebuah gunung yang mengelilingi bumi.
2. Kisah-kisah nabi-nabi terdahulu yang sangat berlebihan, seperti kisah yang menceritakan kesabaran nabi Daud ketika tertimpa musibah penyakit, di mana digambarkan nabi Daud mengutip kembali ulat-ulat yang berjatuhan dari luka penyakitnya dan meletakkan kembali ke tempatnya semula.
3. Perincian terhadap sesuatu yang tidak dijelaskan secara detil oleh al-Qur’an. Seperti tentang jenis pohon di surga yang Allah larang nabi Adam mendekatinya.
4. Pelanggaran terhadap kesucian nabi-nabi. Seperti kisah nabi Daud yang membunuh seorang tentaranya yang bernama Oraya untuk mendapatkan istri Oraya yang cantik padahal nabi Daud sendiri telah memiliki 99 orang istri.
5. Kisah-kisah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Seperti kisah bahwa istri nabi Nuh termasuk orang yang selamat dari azab banjir.
6. Ada keterangan yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut diambil dari ahli kitab.
7. Ada keterangan yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut ada kelemahan.
8. Adanya kisah-kisah yang sama tapi bertentangan isinya. Seperti tentang penentuan anggota badan lembu betina, ada yang menyebut bagian paha, lidah, dan ekor
9. Isi ceritanya aneh dan pelik. Seperti bahwa jumlah alam ada sekitar 18.000 atau 14.000.
10. Kisah-kisah yang mengandung khurafat. Seperti kisah gergaji ‘Auj ibn Unuq.
11. Kisah-kisah tentang masa lampau atau kaum-kaum terdahulu. Seperti kisah tentang kerusakan Bani Israil
Selain itu, banyak contoh penafsiran berdasarkan israiliyyat yang bisa dijumpai dalam tafsir ath-Thabari. Dalam al-Qur’an kisah penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim as diabadikan dalam QS. Al-Shafat 102 yang berbunyi: “ Maka tatkala anak itu sampai (Pada umur sanggup) berusaha bersama-sama dengan Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesunguhnva aku melihat dalam mimpi aku meyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab, “Wahai Bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatkanku termasuk orang-orang yang sabar “.
Kunci persoalan yang sering menjadi perdebatan para ulama berkaitan dengan tema ini adalah uraian tentang siapa sebenarnya yang di `al-adzabih’ pada ayat di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud itu adalah Nabi Ismai. putra Nabi Ibrahim. dari Siti Hajar. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Nabi Ishaq, putranya dari Siti Sarah. Pendapat terakhir, menurut Ibnu Katsir dan mufassir lainnya berasal dari israliyyat.21 Karena sumber tafsiran ini berasal dari keinginan mengangkat nenek moyang bangsa Yahudi yaitu Ishaq. Bahkan menurut Ibnu Katsir lagi pendapat mereka itu bertentangan dengan sumber-sumber ahli kitab mereka.
Berkaitan dengan pesoalan di atas, dalam tafsirnya mengungkapkan dua kelompok riwayat yang masing-masing mewakili dua pendapat di atas. Riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan at-dzahabi adalah Nabi Ishaq as. diterimanya dari Abi Kuraib, Zaid bin Habilm, al-Hasan bin Dinar, dari Ali bin Zaid bin Zad’an, dari al-Ahnaf bin Qaid dan al-Abbas bin Abdul Muthalib dan dari Nabi. Sanad israiliyyat yang disandarkan kepada Nabi di atas ditolak oleh para ulama. Menurut Ibnu Katsir sebagaimana ditulis oleh Syu’bah, riwayat itu dha’if, gugur dan tidak dapat dijadikan hujjah sebab salah satu rawinya yaitu Hasan bin Dinar, harus ditinggalkan periwayatannya dan gurunya pun, Zaid bin Zad’an, periwayatannya tidak dapat diterima.
Namun kelemahan-kelamahan ini tidak dikemukakan oleh ath-Thabari, bahkan ia menjadikannya pemihakan terhadap israiliyyat yang mengatakan yang disembelih adalah Nabi Ishaq as, meskipun tidak mengomentari sanadnya, ia mengomentari matnnya. Dalam hal ini ia memilih riwayat yang mengatakan yang dimaksud dengan al-dzahib adalah Nabi Ishaq as. Ia juga mengatakan al-Qur’an mendukung riwayat itu. Untuk mendukung pendapatnya, ia mengajukan berbagai argumentasi, umpamanya ia berargumentasi bahwa permintaan Nabi Ibrahim as agar dikaruniai putra ketika berpisah dan kaumnya dan hendak hijrah ke Syam bersama isterinya Sarah, terjadi ketika ia belum mengenal Hajar isterinya yang kedua.
Setelah peristiwa hijrah itu Tuhan mengabulkan do’anya. Anak itulah yang menurutnya kemudian dilihatnya disembelih dalam ketiga mimpinya. Dalam al-Qur’an, Nabi Ishaqlah yang disebut-sebut sebagai kabar gembira bagi Nabi Ibrahim as, dalam surah as-Shaffat : 101, “Maka kami memberi kabar gembira kepadanya seorang anak yang sabar ”
Diantara israiliyyat yang mewarnai tafsir ada juga yang sejalan dengan al-Qur’an, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan israiliyyat yang bertentangan dengan al-Qur’an. Diantara yang sejalan dengan al-Qur’an adalah israiliyyat yang bertalian dengan ayat al-A’raf 157, yang dikutip oleh Ibnu Katsir, yaitu:
“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi Ummi yang (namanya) mereka dapati di dalam Taurat dan Injil yang berada di sisi mereka Nabi yang menyuruh mereka mengerjakan perbuatan ma’ruf dan melanggar perbuatan munkar serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik “. (QS. Al-A’raf : 157)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir mengutip israiliyyat yang yang disampaikan ath-Thabari dari al-Mutsanna dari Utsman bin Umar dari Fulaih dari Hilal bin Atha bin Yasar, Ia berkata :”Aku bertemu dengan Abdullah bin ‘Amr bin Ash dan bertanya kepadanya, ceritakan olehmu kepadaku tentang sifat Rasulullah saw yang diterangkan dalam Taurat sama seperti yang diterangkan dalam al-Qur’an, wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan dan pemelihara yang ummi, engkau adalah hamba-Ku, namamu dikagumi, engkau tidak kasar tidak pula keras. Allah tidak akan mencabut namamu sebelum agama Islam tegak lurus, yaitu setelah diucapkan tiada Tuhan yang patut disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah, dengan perantaraan engkau pula Allah akan membuka hati yang tertutup, membuka telinga yang tuli dan membuka mata yang buta”.
Ibnu Katsir mengkaitkan israiliyyat itu dengan pernyataan bahwa Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kItabnya Shahihnya yang diterima dari Muhammad bin Sinan. dari Fulai, dari Hilal bin Ali dengan tambahan redaksinya berbunyi, “dan bagi sahabat-sahabatnya di pasar, Nabi tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, tetapi ia senantiasa mempunyai sifat pemaaf. Keberadaan israiliyyat itu dalam shahih Bukhari menunjukan bahwa kwalitas sanadnya shahih. Demikian pula israiliyyat ada yang memiliki kualifikasi tidak dapat diterima dan tidak pula dapat didustakan kebenarannya (maukuf), contohnya surah an-Nisa 158 tentang kenaikkan Isa al-Masih, “Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya dan adalah Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana”.
Al-Qur’an memang tidak membahas secara rinci bagaimana proses penyerupaan dan kenalkan Isa as sehingga persoalan ini kerap kali menjadi bahan kontraversi di kalangan umat Islam. Umpamanya masih diperselisihkan apakah yang diserupakan dengannya itu dan kemudian dibunuh oleh orang-orang Yahudi hanya satu orang atau semua sahabatnaya yang ketika kejadian itu berlangsung berada di rumah dengannya. Bila ada uraian tentang hal itu sudah bisa dipastikan bersumber pada israiliyyat. Dalam hal ini ath-Thabari mengutip israiliyyat itu. Ia mengemukakan dua macam riwayat yang masing-masing didukung oleh banyak sanad. Riwayat pertama berasal dan Wahbah bin Munabbih mengatakan yang diserupakan dengan Nabi Isa as adalah seluruh sahabatnya. Ketika memasuki rumah tersebut dan hendak membunuhnya, orang-orang Yahudi kebingungan karena seisi rumah itu wajahnya sama, akhirnya mereka membunuh salah seorang sahabatnya, sedang Nabi Isa diangkat ke langit.
Riwayat kedua yang berasal dari Qatadah mengatakan bahwa yang diserupakan dengannya adalah salah seorang sahabatnya saja, ketika masuk orang-orang Yahudi membunuh orang yang diserupakan itu, sedangkan Nabi Isa as diangkat ke langit. Sementara Ath-Thabari lebih cenderung kepada pendapat Wahab bin Munabbih dengan pertimbangan rasionya lebih mendekati kebenaran, jika salah satu saja yang diserupakan, tentu para sahabatnya yakin yang dibunuh adalah orang yang diserupakan. Padahal sebenarnya mereka merasa kebingungan siapa sebenarnya yang mereka bunuh tersebut.
Dari israiliyyat-israiliyyat yang mewarnai kitab tafsir, menurut pendapat saya, sebelum menjadi dasar menafsiran ayat al-Qur’an seorang mufasir harus bersikap extra hati-hati. Metodenya adalah melakukan studi kritis sanad, dengan meyebutkan nama-nama rawi yang terlibat dalam transmisian sebuah riwayat sehingga didapati riwayat yang didasarkan pada sanad yang sahih. Pencantuman israiliyyat dalam tafsir harus diberi komentar tidak sekedar “taken for granted” saja sehingga membingungkan para pembaca tafsir apa pendapat pengarang sebenarnya, apakah mendukung atau tidak terhadap israiliyyat yang dicantumkan dalam tafsirnya. Yang kedua harus diperhatikan kesesuaiannya dengan syari’at Islam, persesualan ini dengan pada al-Qur’an dan Hadits Nabi. Yang ketiga apakah sesuai dengan rasio atau tidak.

E. Kontroversi dan Sikap Kritis Ulama terhadap Israiliyat
Israiliyat, baik yang berupa nukilan dan kitab suci (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), maupun yang cerita atau dongeng yang bersumber dankebudayaan Ahli Kitab, menjadi salah satu objek pembahasan ahli tafsir, karenaketerkaitannya dengan penafsiran al-Quran dengan atsar (at-tafsir al-ma`tsur). Hal itu dikarenakan Israiliyat yang diriwayatkan oleh sebagian sahabat dan tabi’in yang berasal dan Ahli Kitab dipergunakan oleh sebagian mufasir sebagai atsar untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Masalahnya, apa yang menjadi dasar hukum tindakan para mufasirin tersebut?
Sebagaimana dimaklumi, pada masa periwayatan, tafsir al-Quran diriwayatkan sebagai bagian dari hadits. Demikian pula halnya pada masa tadwin yang dimulai sekitar akhir abad I atau awal abad II H, tafsir merupakan salah satu bab di antara bab-bab kitab hadits. Pada mulanya tafsir ma’sur yang dibukukan pada masa itu sedikit sekali yang memuat riwayat Israiliyat. Walaupun ada, sifatnya terbatas pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan nash-nash syariat. Bahkan sebagian diriwayatkan dari Rasulullah SAW. dengan riwayat yang sahih seperti hadits-hadits tentang bani Israil yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan kitab-kitab hadits induk lainnya.
Kemudian, setelah tafsir berpisah dari kitab-kitab hadits, pada mulanya Tafsir Bi Al-Ma’sur yang dibukukan itu disebut secara lengkap sanadnya dan mengandung tidak sedkit riwayat Israiliyat yang berisi hal-hal yang munkar dan aneh. Selanjutnya generasi berikutnya membukukan Tafsir Bi Al Ma’sur dengan membuang sanad-sanadnya dan tidak meneliti dengan cermat apa yang mereka tulis. Mereka kumpulkan riwayat yang sahih bersama yang tidak sahih di dalam karya-karya mereka, yang mengandung banyak riwayat Israiliyat yang dapat mengacaukan kehidupan keagamaan umat Islam. Demikianlah masa terus berlalu, dan mereka yang terjun dalam penafsiran tafsir Al-Quran semakin kurang berhati-hati sehingga ada di antara mereka yang karena gemarnya terhadap kisah Israiliyat, hampir-hampir tidak ada satu riwayat pun yang dilewatkannya. Yang termasuk di antara mereka ialah Abu Ishaq Al-Salabi (W. 427 H).
Melihat kenyataan yang tidak menggembirakan ini sebagian ahli tafsir telah mulai melontarkan kritiknya. Sebenarnya kritik terhadap Israiliyat ini telah dimulai oleh Ibn Jarir Al-Thabari (W. 310 H) walaupun dalam jumlah yang tidak banyak. Pada masa berikutnya Ibn Al-Arabi (W. 543 H) dalam kitabnya, Ahkam Al-Quran, sempat mengemukakan sikapnya dalam mengoreksi riwayat Israiliyat ini. Ibn Al-Arabi berpendapat bahwa riwayat dari bani Israil yang dibolehkan untuk meriwayatkan hanyalah dalam hal cerita mereka yang menyangkut keadaan diri mereka sendiri. Sedangkan riwayat mereka yang menyangkut keadaan orang lain membutuhkan penelitian yang lebih serius dan lebih cermat.
Lebih dari itu, dalam al-Quran tidak ada dalil tegas yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum dalam masalah Israiliyat ini. Memang ada beberapa ayat yangmenyatakan bahwa Tuhan telah menurunkan beberapa kitab suci kepada nabi-nabi terdahulu, seperti Zabur, Taurat, dan Injil. Orang-orang beriman harus percaya kepada kitab-kitab tersebut, tetapi al-Quran juga menerangkan bahwa orang-orang. Yahudi dan Nasrani yang disebut Ahli Kitab tersebut telah melakukan perubahan dan memutar balikkan ayat-ayat Tuhan dalam kitab-kitab tersebut, sehingga tidak sepenuhnya lagi merupakan firman-firman suci dan Tuhan. Pada waktu al-Quran diturunkan, kitab suci seperti itulah yang dipegangi oleh kalangan Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani.
Para ulama, terlebih lagi para ahli tafsir berbeda-beda sikapnya, dalam masalah ini terdapat empat macam, yaitu sebagai berikut :
1. Ada yang banyak membawakan riwayat Israiliyyat dengan disertai sanadnya, dia memandang, bahwa dengan menyebutkan sanad, maka dia dapat keluar dari lingkup larangannya, seperti Ibnu Jarir Ath-Thabari.
2. Ada yang banyak membawakan riwayat Israiliyyat tanpa disertai sanad, maka dia seperti penyulut api di tengah malam, misalnya : Al-Baghawi yang di katakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang tafsirnya : “Tafsirnya adalah ringkasan dari tafsir Ats-Tsa’labi, akan tetapi dia menjaganya dari hadits-hadits palsu dan pandangan-pandangan bid’ah”, beliau mengatakan tentang Ats-Tsalabi : “Dia adalah penyulut api di tengah malam, dia menukil apa yang dia dapati dalam kitab-kitab tafsir dari riwayat-riwayat shahih,dhaif atau palsu”.
3. Ada yang banyak menyebutkanya, namun sebagian besar yang disebutkan diberi komentar dha’if atau diingkari, seperti Ibnu Katsir.
4. Ada yang berlebih-lebihan dalam menolaknya sehingga tidak menyebutkan riwayat Israiliyyat sedikitpun sebagai penafsiran bagi Al-Qur’an, seperti Muhammad Rasyid Ridha.
Sementara ada catatan khusus tentang pandangan Ibn Katsir terkait masalah israiliyat ini, Sikap Ibnu Katsir dalam israiliyat sama dengan gurunya Ibnu Taymiyyah, akan tetapi dia lebih tegas sikapnya dalam menghadapi masalah ini. Sebagaimana ulama yang lain, Ibnu Katsir mengklasifikasikan israiliyat ke dalam tiga jenis.
1. Riwayat yang shahih dan kita harus meyakininya. Pendeknya, riwayat israiliyat tersebut sesuai (baca: ada) dengan apa yang di ajarkan oleh syari’at Islam.
2. Riwayat yang bersebrangan dengan Islam, berarti kewajiban untuk ditolak, karena riwayat ini adalah riwayat dusta.
3. Riwayat yang tawaquf ditangguhkan. Hal ini menuntut sikap untuk tidak meyakini 100 % dan menolak 100%. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “kabarkanlah oleh kamu tentang bani Israil karena hal itu tidak mengapa bagi kamu…“. Dan hadits lain, “janganlah kamu sekalian membenarkan mereka, juga jangan mendustakan mereka”.
Untuk point pertama dan kedua ibnu Katsir sepakat dengan ulama yang lain tapi untuk point ketiga Ibnu Katsir kurang sepakat dalam tatanan realitanya. hal ini bisa kita cermati, ketika beliau banyak mengedepankan tentang larangan periwatan israiliyat yang Ia suguhkan dalam metode tafsirnya. Begitu pula, Ia banyak melontarkan kritik terhadap riwayat israiliyat, karena riwayat ini kurang mempunyai faidah baik itu dalam permasalah keduniaan maupun problematika keagamaan. Di sini tampak Ibn Katsir meninjau al-Quran dan Israiliyat dari segi kandungannya, dan atas dasar itulah kritiknya terhadap Israiliyat dilancarkan. Demikian pula yang dilancarkan oleh al-Baqa’i tadi.
Dalam pada itu al-Zahabi telah membagi kitab-kitab tafsir menurut caranya mengetengahkan riwayat Israiliyat dalam enam kelompok :
1. Kitab-kitab tafsir yang meriwayatkan Israiliyat lengkap dengan kritik dan penilaian. Kitab yang paling populer yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Tafsir Al-Tabari.
2. Kitab tafsir yang meriwayatkan Israiliyat lengkap dengan sanadnya, kemudian memberikan komentar disertai penjelasan kebatilannya. Kitab yang populer yang termasuk ke dalam kelompok ini ialah Tafsir Ibn Katsir.
3. Kitab-kitab Tafsir yang meriwayatkan Israiliyat dengan panjang lebar tanpa menyebut sanadnya sedikit pun di samping tidak memberikan komentar penilaian benar-salahnya riwayat itu. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Tafsir Muqatil Ibn Sulaiman (W. 150 H).
4. Kitab-kitab tafsir yang meriwayatkan Israiliyat tanpa menyebutkan sanadnya, tetapi kadang kala memberikan isyarat terhadap segi kelemahannya, dan kadang-kadang dengan tegas, tetapi juga terkadang tidak memberikan penilaian sama sekali walaupun ternyata riwayat yang dibawakannya jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip syara’. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Tafsir Al-Khazin (W. 741 H).
5. Kitab-kitab tafsir yang membawakan Israiliyat tanpa sanad, sedangkan tujuan utamanya adalah untuk menjelaskan kepalsuan dan kebatilannya, dan sangat langka riwayat itu dibawakan tanpa diberi komentar. Yang termasuk kelompok ini adalah Tafsir Al-Alusy (W. 1270 H).
6. Kitab-kitab tafsir yang menyerang dengan gencar para mufasir yang genar membawakan Israiliyat. Yang termasuk ke dalam kelompok ini ialah Tafsir Al-Manar susunan Al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (W. 1354 H)
Walaupun untuk mencari kepastian yang meyakinkan dari hasil penelitian Husain Al-Zahabi ini memerlukan penelitian yang lebih intensif lagi, dan diakui hal ini merupakan tugas yang berat, dari penelitiannya itu paling tidak sudah tergambar betapa besar pengaruh riwayat Israiliyat ke dalam kitab-kitab tafsir yang ada.
Berbagai trik yang digunakan dalam menghadapi riwayat ini. Namun secara khusus, pandangan para ulama dalam menceritakan atau meriwayatkan cerita Israiliyyat, apabila dilihat dari segi dalilnya, terdapat dalil-dalil yang melarang dan dalil-dalil yamg membolehkan sebagaimana penjelasan berikut :
1. Dalil-dalil yang Melarang
Di dalam al-Quran menyatakan bahwa Yahudi dan Nasrani telah mengubah sebagian besar isi kitabnya, sehingga tidak bisa dipercaya kebenarannya dan tidak bisa dipercaya periwayatannya. Surat Al Midah (5) ayat 5 menyatakan: “Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang Rasul kami kepadamu, menjelaskan banyak dari isi al kitab yang kamu sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkan, sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.”
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya bahwasannya Rasulullah SAW. Bersabda, “Janganlah kamu sakalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, dan nyatakan oleh kalian, ‘kami semua beriman kepada Allah SWT. Dan yang diturunkan kepada kami’.”
Jika umat Islam mengetahui dengan pasti akan kebohongan atau pun kedustaan riwayat Isrâ`iliyât, maka kewajiban selanjutnya adalah menolak dan tidak meriwayatkannya kepada orang lain. Hal itu karena akan berdampak negatif terhadap keyakinan sebagai umat Islam bahkan lebih dari itu akan merusak citra umat Islam itu sendiri. Yang demikian itu dikarenakan Nabi sendiri melarang umat beliau untuk meriwayatkan kisah-kisah yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan Al-qur’an dan As-Sunnah.
2. Dalil-dalil yang Membolehkan
Ayat al-Quran yang memperbolehkan bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu seperti yang terdapat dalam surat Yunus (10) ayat 94, ““Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang kami turunkan padamu, tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhan-mu. Sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” Selain itu terdapat Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab shahihnya. “Sampaikanlah olehmu apa yang kalian dapat dariku, walaupun satu ayat, ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak ad dosa di dalamnya. Barang siapa sengaja berbohong kepadaku, maka bersiaplah dirinya untuk mendapatkan tempat di neraka.”
Merujuk dua dalil di atas, maka riwayat yang bisa diterima dari Isrâ`iliyât ini tentunya harus sesuai dengan isi syariat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi, selama Isrâ`iliyât itu tidak bertentangan maka boleh menerima riwayat tersebut. Hal ini berdasrkan hadits Nabi saw. yang artinya, “…Riwayatkanlah kalian (hadits) dari Bani Israil, (karena) hal itu tidaklah berdosa….” Maksud dari hadits yang shahih ini adalah dibolehkan meriwayatkan dan menerima hadits dari para Ahlul Kitab, selama diketahui bahwa hadits itu sesuai dengan apa yang diturun kepada Nabi Muhammad saw., baik itu al-qur’an ataupun al-Hadits.
Namun demikian, ada sikap ketiga dari para ulama terkait dengan israiliyat ini, yaitu riwayat Isrâ`iliyât yang tidak diketahui kebenaran ataupun kebohongannya, mungkin seseorang tidak pernah didapati di dalam al-qur’an ataupun Hadits yang menyatakan kebohongannya ataupun kebenarannya. Oleh karena itu, Nabi SAW telah memperingatklan umat Islam dalam sebuah hadits yang cukup ma’ruf di kalangan para Ulama terkait larangan membenarkan Ahlul Kitab itu meskipun tidak harus mendustakannya.Adapun hukum meriwayatkan riwayat Isrâ`iliyât yang seperti ini para ulama bersilang pendapat, di antara mereka ada yang membolehkan dan sebagian lain ada yang melarang, karena mereka menilai bahwa hal ini akan membawa agama kepada hal-hal yang tidak diinginkan oleh Allah SWT dan Nabi SAW.
Sikap kritis para Ulama terhadap masuknya cerita-cerita israiliyat dapat dikemukakan secara lebih rinci sebagamana berikut, yaitu :
1. Ibnu Hajar Al-’Asqalani (w. 852 H)
Dalam kitab Fath Al-Bari ketika dia menjelaskan maksud hadits pertama di atas, menulis sebagai berikut: “Sedangkan kebolehan memberitakan dalam hadis kedua, menurut pendapatnya, hanya ditujukan pada berita-berita yang sifatnya benar; sedangkan yang jelas kebohongannya, Rasulullah sangat melarang untuk memberitakannya. Jadi, tidak bertentangan dengan maksud hadis pertama. Begitu pula tidak bertentangan dengan hadis ketiga, karena menurut pendapatnya, hadis terakhir ini diucapkan Rasulullah pada masa hukum-hukum dan ajaran pokok agama Islam masih belum ditetapkan, karena dikhawatirkan terjadi fitnah. Namun, setelah kekhawatiran tersebut tidak relevan lagi dengan masanya, kebolehan pun diberikan sebagaimana dinyatakan pada dua hadis sebelumnya, dengan harapan dapat menjadi pelajaran bagi umat”
Pendapat Ibn Hajar ini menyatakan adanya Israiliyat yang dapat diterima, yaitu yang sesuai dengan syariat. Namun, ada pula yang harus tawaqquf terhadapnya karena kebenarannya masih muhtama, dan tidak boleh banyak terlibat dalam masalah yang musykil dan meragukan ini.
2. Ibnu Kasir (w. 774 H)
Dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim, ia membagi Israiliyat kepada tiga golongan. Pertama, yang diketahui kebenarannya, karena ada konfirmasinya dalam syariat, maka dapat diterima. Kedua, yang diketahui kebohongannya, karena ada pertentangannya dengan syariat, maka harus ditolak. Ketiga, yang tidak masuk ke dalam bagian pertama dan kedua tersebut, maka terhadap golongan ini tidak boleh membenarkan dan tidak boleh mendustakannya, tetapi boleh meriwayatkannya. Pendapat Ibn Kasir ini, tidak berbeda dengan pendapat Ibn Hajar, hanya saja dia menegaskan kebolehan meriwayatkan Israiliyat yang sifatnya tidak jelas antara benar dan dustanya. Maksudnya adalah meriwayatkan dengan menerangkan status riwayat tersebut sebagai sesuatu yang harus bersifat tawaqquf terhadapnya. Pendapat inilah yang ia pegang dalam kitab tafsimya tersebut, sehingga banyak juga Israiliyat di dalamnya, tetapi selalu diiringi dengan penjelasan tentang statusnya.
3. Ibnu Al-Arabi
Dalam Ahkam Al-Quran, ia sangat berhati-hati terhadap Israiliyat. Dalam menjelaskan maksud hadis yang kedua di atas, dia membedakan antara isi berita yang berkenaan dengan diri mereka sendiri (Ahli Kitab), dan yang berkenaan dengan orang lain (non-Ahli Kitab). Yang pertama itu dapat diriwayatkan karena dianggap sebagai pengakuan seseorang terhadap dirinya sendiri yang dia memang lebih tahu tentang dirinya, sedangkan yang kedua harus diteliti lebih dahulu dari segi adalah perawinya dan sisi positif berita itu sendiri. Sedangkan tentang hadis ketiga dia khususkan terhadap masalah hukum syara yang dilarang menerimanya.
4. Ibnu Taimiyah
Dalam Muqadimah fi Ushul Al-Tafsir, ketika ia membahas perkara-perkara yang sebenarnya tidak begitu perlu dan berguna untuk mengetahuinya dalam rangka penafsiran Al-Quran, seperti tentang warna anjing (ashab al-kahfi) dan namanya, ukuran perahu Nabi Nuh dan jenis kayunya, nama anak kecil yang dibunuh nabi Khidir dan lain-lain. Memahami kata-kata tersebut, Rasyid Ridha berkesimpulan bahwa Ibn Taimiyah sama sekali bersikap tawaqquf terhadap kebenaran segala riwayat yang datang dan tokoh-tokoh Israiliyat yang sifatnya tidak ada bukti yang tegas atas kebatilannya. Sikap tawaqquf juga ditujukan kepada isi kitab suci Ahli Kitab (Taurat dan Injil), karena ada kemungkinan isinya itu termasuk yang sudah mereka ubah, atau yang masih asli
Jadi menurut Rasyid Ridha, Ibn Taimiyah memerinci ada dua sikap terhadap Israiliyat: Pertama, tawaqquf (tidak membenarkan dan tidak mendustakan) yaitu ditujukan kepada isi kitab suci mereka dan segala yang diriwayatkan oleh tokoh-tokoh Israiliyat yang tidak ada bukti kebohongannya. Kedua, mendustakan riwayat yang jelas ada bukti kebohongannya. Dengan demikian, sama sekali tidak ada Israiliyat yang dapat dipergunakan dalam rangka penafsiran al-Quran. Di sana dijelaskan bahwa diriwayatkan oleh tokoh-tokoh Israiliyat tersebut, jika sesuai dengan apa yang datang dari syariat Islam sendiri, maka dapat diterima dan tidak perlu tawaqquf terhadapnya. Jika benar demikian, Ibn Taimiyah juga membenarkan adanya kemungkinan Israiliyat yang dapat dipergunakan dalam rangka penafsiran al-Quran.
5. Rasyid Ridha (w. 1935 M)
Dalam muqadimah tafsir al-Manar, ia menegaskan sikapnya terhadap Israiliyat yang tidak jauh berbeda dengan pandangan dan sikap ibn Taimiyah, namun tampaknya dia berbeda pendapat dengan gurunya, Syaikh Muhammad Abduh (w. 1905 M). Dalam hal ini, Abduh setelah berulang-ulang memperingatkan kewajiban berhati-hati terhadap cerita-cerita nabi-nabi Bani Israil yang dibawakan oleh para Mufasir yang tafsirnya penuh dengan Israiliyat
Abduh juga memberikan adanya kemungkinan untuk mempergunakan Israiliyat dalam menjelaskan nash-nash AlQuran apabila sesuai dengan nash tersebut dan benar riwayatnya. Pendapat ini akan bertambah jelas jika dihubungkan dengan tulisan dalam muqaddimah tafsir Al-Manar berkaitan dengan macam-macam tafsir Al-Quran terdahulu. Abduh tidak mengkritik jika sumber cerita itu berasal dan kitab Taurat, Injil dan kitab-kitab yang dipegang oleh Ahli Kitab, dan isinya tidak bertentangan dengan syara dan akal sehat. Jika benar demikian, dapat dimengerti mengapa di dalam tafsir al-Manar juga ditemukan banyak kutipan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam memperjelas kitab Taurat dan Injil dan kitab-kitab yang dipegang Ahli Kitab dari pengertian “Israiliyat” yang sangat bertentangan itu.
Dengan demikian, pada dasarnya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha memiliki pandangan yang sama terhadap Taurat. Keduanya menukil dari Taurat dalam penafsirannya terhadap AlQuran dan membolehkannya, jika memiliki pembenaran dari AlQuran dan akal. Selain itu, Muhammad Abduh menulis tafsirnya dalam majalah sehingga dipastikan akan banyak dibaca orang, baik dan kalangan Muslim maupum non-Muslim. Ia juga seorang dai, yang berarti berusaha membela Islam dengan menggunakan dalil dari orang luar Islam
6. Al-Biqa’i
Dalam tafsirnya, Al-Munasabat, al-Biqa’I berpendapat bahwa dibolehkan mempergunakan ayat-ayat dalam kitab suci Ahli Kitab (Taurat dan Injil) apabila ada konfirmasinya dan Al-Quran. Sebaliknya, terhadap keterangan yang tidak ada konfirmasinya, baik yang membenarkan maupun yang mendustakannya, dia menunjuk kepada hadis pertama dan kedua tersebut di atas, yang dianggapnya membolehkan untuk mengambil berita-berita tertentu, sebagaimana sahabat Rasulullah melaksanakannya.
Al-Biqa’i hampir dihukum mati, karena mengutip ayat-ayat dan Taurat dan Injil yang sudah diubah. Kemudian dia tidak memisahkan antara Al-Quran dan tafsirnya. Sedangkan alasan A1-Biqai meriwayatkan dan Taurat dengan alasan untuk pembuktian kebenaran isi Al-Quran. Ia berpendapat, “Apa yang dapat memberi kebenaran isi Al-Quran? Adakah dari Al-Quran tentang pembuktian terhadap orang-orang Ahli Kitab. Jika ada dari Taurat itu dapat digunakan sebagai tambahan penjelasan atau idea/pandangan kita yang sudah ada terhadap penafsiran Al-Quran, lalu ada penjelasan dan Taurat, maka mi juga dibolehkan”.
7. Al-Qasimi
Dalam kitabnya, At-Tafsir wa Al-Mufassirun, ia membagi Israiliyat pada tiga jenis: Pertama, yang diketahui kesahihannya, karena adanya konfirmasi dan sabda Nabi SAW. atau dikuatkan oleh syariat. Bentuk ini dapat diterima. Kedua, diketahui kebohongannya, karena pertentangannya dengan syari’at atau tidak sesuai dengan akal sehat. Bentuk ini tidak boleh diterima dan tidak boleh meriwayatkannya. Ketiga, yang tidak termasuk kedua jenis tersebut di atas, maka sikap yang perlu dilakukan adalah bersikap tawaqquf terhadapnya (tidak membenarkan dan tidak mendustakan), tetapi boleh meriwayatkannya, yang didasarkannya atas hadis pertama di atas.

F. Kesimpulan
Dari uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa pengertian Israiliyat di kalangan para ahli tafsir tidak sama, karena adanya perbedaan tekanan pengertian pada sumber, materi dan dampak dan Israiliyat itu sendiri. Dan segi sejarah, masuknya Israiliyat ke dalam kerangka penafsiran Al-Quran adalah dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi pada masa sahabat, baik kultural maupun struktural. Sedangkan beberapa tokoh terkemuka Israiliyat, jika dilihat dan segi keadilan dan ke-tsiqah-an mereka, ada di antaranya yang tidak diragukan, ada yang sangat diragukan di samping ada yang bersifat kontroversial.
Berdasarkan konstelasi di atas, para ahli tafsir tidak sepakat tentang sikap dan penilaian mereka terhadap Israiliyat. Di antaranya ada yang menolak sama sekali, dan lebih banyak yang menerima secara selektif. Keberadaan Israiliyat dalam kitab-kitab tafsir Al-Quran, sangat menurunkan derajat Al-Quran, karena di dalamnya bercampur baur yang hak dengan yang batil, yang benar dengan yang bohong, yang ilmiah dengan dongeng semata. Bahkan kenyataan itu dapat membahayakan Islam sendiri, dan merugikan dakwah Islam di abad modem mi, di saat kemajuan ilmu dan teknologi makin pesat.
Dengan demikian, perlu diintensifkan penelitian ilmiah terhadap segala macam Israiliyat yang ada dalam kitab-kitab tafsir, dengan mempergunakan kriteria yang disepakati bersama, sehingga AlQuran dengan tafsirnya dapat dibersihkan dan noda Israiliyat yang ditinggalkannya selama ini. Dan sebagai penutup uraian ini, sepantasnya diperhatikan batasan yang dikemukakan oleh Al-Zahabi dalam kitabnya, Al-Tafsir, I, halaman 179. Ia menyimpulkan nilai Israiliyat itu yang sekaligus merupakan batasan-batasan pokoknya sebagai berikut :
1. Riwayat Israiliyat yang diketahui kesahihannya, seperti yang langsung dinukil dari Nabi Saw. mengenai nama shahabat Nabi Musa As., yakni Al-Khaidir. Sebutan nama itu jelas sekali dari Sabda Rasulullah Saw. sendiri sebagaimana tercantum dalam kitab Shahih Al-Bukhari. Atau riwayat Israiliyat itu didukung oleh dalil syara’ yang memperkuatnya. Riwayat seperti ini maqbul.
2. Riwayat Israiliyat yang diketahui kebohongannya seperti yang bertentangan dengan syariat yang dikenal selama ini, atau riwayatnya tidak sesuai dengan pertimbangan akal sehat. Riwayat seperti ini tidak boleh diterima dan diriwayatkan.
3. Riwayat Israiliyat yang maskut ‘anhu, yakni riwayat yang tidak termasuk ke dalam kelompok pertama dan kedua di atas. Dalam hal ini hukumnya tawaquf, tidak mesti dipercaya dan tidak mesti dianggap bohong, tetapi kita boleh menceritakannya

DAFTAR PUSTAKA

Adz-Dzhabi, “Al-Israiliyat fi At-Tafsir wa Al-Hadist”, Majalat Al-Azhar, Sya’ban 1388 H/Oktober 1968 M

Ahmad Amin, Dhuha Al-Islam, (Mesir: Mathal ba’ah Lajnah Ai-Ta’lif wa Ai-Nasr,
1952), Jiid II, him. 310.

Az-Zarqani, Manabilu Al-’Irfan Fi Ulumi Al Qur’an (Mesir: Matha’ah Isa Al-Baby Al-Halabi Wa Syurakahu, jilid II)

Ibnu Hajar Al Asqalany, Fath al-Bary (Kairo: Mathba’ah Ai-Khairiyah, 1325 H.), Juz VIII

Ibnu Katsir Ibn Al-Quraisyi, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim (Mesir: Isa Ai-Babi Aql Halaby As-Syurakahu, juz I) hIm. 4.

Manna’ Al-Qattan, Mahabis Fi ‘Lilumi Al Qu’ran (Mesir: Mansyurat Ai’Ashari AlHadis, 1973), cet. Ke—2.

Musnad Imam Ahmad juz III him. 287, lihat: Adz-Dzahabi, Op. Cit. him. 172-173. Jamal Al din Al-Qasimi Mahasinu Ai-ta’wil, jaz I. H. 45-47.

Rachmat Syafe’i, Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung : Pustaka Setia, 2006

Rasyid Ridha, Tafsir AlQuran Al-Hakim, (Mesir. Dar Al-Manar, 1373), Juz II, cet. IV

Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i , Ulumul Qur’an I, Bandung, Pustaka Setia, 1997

Ahmad Al-Khuli, Manahij Al-Tajdid, Dar Ma’rifah, Cairo, 1961 Ahmad Ibn Hambal, Musnad III, Al-Maktab Al-Ilmi Wa Dar Sadir, Beirut

Ahmad Khalil, Dirasat Fi Al-Qur’an, Dar Maarif, Mesir Ahmad Muhammad Syakir, Umdah Al-Tafsir ‘An Al-Hafidz Ibn Katsir, 1, Dar Ma’ruf, Mesir, 1956

Al-Imam Bukhari, Shahih Al-Bukhari, IV, Dahlan, Surabaya Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran, Dar Al-Kitab Al-Arabi, Cairo, 1967

Al-Sayyid Muhammad Ridha, Tafsir Al-Manar, I, Dar Al-Manar, Cairo, 1373

Ibn Al-Arabi, Ahkam Al-Quran, I, Al-Halabi, Mesir, 1967 Ignaz Goldziher, Mazahaib Al-Tafsir Al-Islam, alih bahasa Abd. Halim Al-Najjar, Makatabah Al-Islami, Mesir, 1995

Khalaf Muhammad Al-Husaini, Al-Yahudiyah Bain Al-Masihiyah Wa Al-Islam, Al Muassasah Al-Misriyah Al-Ammah,Mesir, 1964

Muhammad Abu Royyah, Adwa’ ‘Ala Al-Sunnah Al-Muhammadiyah, Dar Al-Ta’lif, Mesir, 1958

Muhammad ibn Muhammad Abu Syuhbah, Al-Israiliyat wa Al-maudhu’at fi kutub Tafsir, Maktabah As-sunnah, Qahiroh,1408 H