KAJIAN KRITIS TERHADAP PERSOALAN PENDIDIKAN ISLAM
MENUJU PENDIDIKAN KOMPETITIF DI TENGAH ERA KOMPETISI GLOBAL
Oleh : Zulfiqor
Magister Studi Islam
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Email : zulpiqorbanten@yahoo.com
Blog : http://www.zulpiqorbanten.wordpress.com

A. Pendahuluan
Peran pendidikan sangant penting dalam kehidupan manusia bahkan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses kehidupan manusia. Dengan kata lain, kebutuhan manusia terhadap pendidikan bersifat mutlak dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, bangsa dan negara. Jika sistem pendidikanya berfungsi secara optimal maka akan tercapai kemajuan yang dicita-citakanya sebaliknya bila proses pendidikan yang dijalankan tidak berjalan secara baik maka tidak dapat mencapai kemajun yang dicita-citakan.Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap pendidikan, atau tepatnya terhadap praktek pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontibusinya pendidikan. misalnya sangat yakin bahwa pendidikanlah yang dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok.
Pendapat yang sama juga bisa kita baca dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”. Namun didalam dunia pendidikan sendiri banyak masalah-masalah pendidikan yang dihadapi di era globalisasi ini. Baik itu masalah yang bersifat internal maupun eksternal.
Reformasi di Indonesia seakan menjadi cahaya impian yang akan memberikan banyak perubahan kehidupan bagi bangsa ini, khusunya pada sektor pendidikan. Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian, justru pendidikan di bumi Indonesia semakin menjadi problem baru, yakni lahirnya ambiguisitas dalam wilyah pendidikan yang terus berjalan di Indonesia. Kondisi ironis pendidikan tersebut adalah mengenai goal setting yang ingin dicapai system pendidikan. Gambaran riil adalah lahirnya tipe mechanic student di mana setiap peserta didik sudah diposisikan pada orientasi pasar sehingga pendidikan bukan lagi berbasis keilmuan dan kebutuhan bakat peserta didik.
Selain itu, munculnya mitologi ruang pendidikan yang dikukuhkan dengan ritual pendidikan. Artinya, anak bangsa dihadapkan pada ritual kompetisi, pemilihan sekolah favorit, penyuguhan uang “persembahan”, pemakaian seragam baru, pembelian “ramuan-ramuan” buku-buku paket baru, dan segudang ritual lain. Muncul, ambiguisitas kebijakan pemerintah yang sebenarnya sebagai pengelola potensi anak bangsa, namun pemerintah justru menjadi penjaga mitos pendidikan. Pemerintah dengan sangat percaya diri memilih posisi lebih berpihak pada kelangan elite, maka muncul adigium lelang pendidikan.
Permasalahan pendidikan di Indonesia secara umum, dapat diidentifikasi dalam empat krisis pokok, yaitu krisis kualitas, relevansi, elitisme, dan manajemen. Berbagai indicator kuantitatif dikemukakan berkenaan dengan keempat masalah di atas, antara lain analisis komparatif yang membandingkan situasi pendidikan antara negara di kawasan Asia. Keempat masalah tersebut merupakan masalah besar, mendasar, dan multidimensional, sehingga sulit dicari ujung pangkal pemecahannya. Permasalahan ini terjadi pada pendidikan secara umum di Indonesia, termasuk pendidikan Islam yang dinilai justru lebih besar problematikanya.
Pendidikan Islam juga dihadapkan dan terperangkap pada persoalan yang sama, bahkan apabila diamati dan kemudian disimpulkan pendidikan Islam terkukung dalam kemunduran, keterbelakangan, ketidak berdayaan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Katakan saja, pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas, relevansi dengan kebutuhan, perubahan zaman, dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel Islam”, dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan.
Tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam merupakan sub-sistem pendidikan nasional. Jadi sistem pendidikan itu satu yaitu memanusiakan manusia, tetapi pendidikan memiliki banyak wajah, sifat, jenis dan jenjang [pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, pondok pesantren, madrasah, program diploma, sekolah tinggi, institusi, universitas, dan sebagainya], dan hakekat pendidikan adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia, memanusiakan manusia agar benar-benar mampu menjadi khalifah.
Hal ini, merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Olah karena itu, muncul tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan Islam agar ada upaya penataan dan modernisasi sistem dan proses pendidikan Islam aga menjadi pendidikan yang bermutu, relevan, dan mampu menjawab perubahan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Dengan demikian, penataan model, sistem dan proses pendidikan Islam di Indonesia merupakan suatu yang tidak terelakkan, untuk menjawab permintaan dari arus globalisasi yang tidak dapat dibendung lagi dan menjawab predikat keterbelakangan dan kemunduran yang selalu melekat pada pendidikan Islam.
Hemat penulis, strategi pengembangan pendidikan Islam hendaknya dipilih dari kegiatan pendidikan yang paling mendesak, berposisi senteral yang akan menjadi modal dasar untuk usaha penataan dan pengembangan selanjutnya. Katakan saja, perubahan paradigama, visi, misi, tujuan, dana, dan sampai pada program-program pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan dalam negeri ini, seperti: perubahan kurikulum pendidikan secara terarah dan kontinyu agar dapat mengikuti perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Makalah ini berusaha mengidentifikasi dan memahami permasalahan-permasalahan pendidikan Islam di era globalisasi. Perlu pula dikemukakan bahwa permasalah pendidikan yang diuraikan dalam makalah ini terbatas pada permasalahan pendidikan formal. Namun sebelum menguraikan permasalahan pendidikan islam di era globalisasi, terlebih dahulu disajikan uraian singkat tentang fungsi pendidikan.

B. Hakikat Pendidikan Islam dan Globalisasi
1. Hakikat Pendidikan Islam
Globalisasi merupakan suatu rangkaian proses perubahan sosial, ekonomi, dan budaya dalam pola kehidupan manusia. Melalui proses globalisasi, disatu sisi manusia telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi disisi lain perkembangan tersebut telah menyebabkan krisis moral (akhlak) manusia, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai krisis akibat akses globalisasi diperlukan adanya upaya pembentukan kepribadian muslim melalui pendidikan Islam.
Arsiran pendidikan disini tidak hanya berada pada lingkungan sekolah saja (formal), akan tetapi keluarga dan masyarakat (formal dan informal) turut ambil bagian dalam rangka mengaktualisasikan pendidikan Islam berbasis globalisasi. Meskipun demikian, autentitas nilai-nilai yang diaplikasikan masih dibilang belum mampu menjawab tantangan global yang secara periodik datang dalam bentuk dan rupa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perencanaan dan pembangunan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang berpengetahuan dan berakhlak mulia harus diberi apresiasi dan suport yang lebih sehingga diciptakan personalitas yang bisa mengadaptasikan setiap dimensi perubahan yang datang. Einstein juga pernah mengatakan bahwa “science without religion is blind and religion without science is lame.” Pendapat ini mengindikasikan bahwa ilmu pengetahuan tanpa nilai-nilai religiusitas tidak akan bermanfaat dan bermakna, manusia cenderung bersikap individualistik dan melupakan hakikatnya sebagai khalifah Allah dimuka bumi.
Mastuhu menambahkan, bahwa dalam rangka menemukan jati diri menyongsong lembaga pendidikan Islam, baik dirumah, disekolah, dimasyarakat harus ditumbuh kembangkan sikap seperti: copying (memahami orientasi), selecting (memilah-milah yang terbenar dan terbaik), managing (kemampuan mengelola dan mengendalikan), developing (kemampuan mengembangkan pelajaran). Keempat elemen ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Secara totalitas mengambarkan rentetan aktivitas yang dilakukan secara struktural dengan berpijak pada nilai-nilai dan normativitas agama.
Menurut Fazlur Rahman, wacana pendidikan Islam masa depan setidaknya ada tiga hal yang harus diredifinisikan. Pertama, tujuan pendidikan Islam yang bersifat defensif dan cenderung beorientasi pada kehidupan akherat harus segera diubah. Kedua, beban psikologis umat Islam dalam menghadapi Barat harus dihilangkan. Dan ketiga, sikap negatif kaum muslim terhadap ilmu pengetahuan Barat semestinya dibuang. Konsekuensi logis dari pandangan ini membawa pemikiran umat muslim kearah superioritas agama dan tidak mengakui pengetahuan umum lainnya sebagai bagian dari tujuan untuk mencapai kemaslahatan didunia dan akherat. Padahal Islam menganjurkan untuk berkreasi, menelusuri, serta berpikir mendalam mengenai hakikat semua yang telah diciptakan-Nya untuk memakmurkan dunia, jangan sampai perkembangan pengetahuan dijadikan suatu ajang penghancuran dan misi untuk menguasai dunia dari para militan-militan yang tidak bertanggung jawab.
Al-Faruqi dengan tegas mengatakan bahwa saat ini sudah masanya cendekiawan muslim meninggalkan metode asal tiru dari Barat dengan segala pengingkarannya terhadap nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Pandangan asal tiru secara tidak langsung memberitahukan kelemahan-kelemahan pada sistem tatanan dan kualitas manusianya, sehingga negara-negara maju leluasa mengakomodir kelemahan-kelemahan untuk dijadikan target sekularisme. Kebiasaan-kebiasaan ini harus segera ditanggulangi, jadikan sumber Islam sebagai frame untuk mengelola dan mengapresiasikan tindakan yang mestinya dilakukan demi tegaknya aktualisasi pendidikan Islam yang sesungguhnya.
Pendidikan Islam adalah suatu proses yang melatih perasaan murid-murid dengan cara sedemikian rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan mereka yang di pengaruhi dengan nilai-nilai spiritual dan sangat sadar akan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam juga dapat diartikan suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. Menurut Hasan Langulungan pengertian ilmu pendidikan Islam adalah suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peran memindahkan pengetahuan, dan nilai-nilai Islam yang dijelaskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasinya di akhirat.
Pada Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Makkah, pada April 1971, ketika tampil sebagai salah seorang pembicara utama dan mengetuai komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan, secara sistematis al-Attas mengajukan agar definisi pendidikan Islam diganti menjadi penanaman adab dan istilah pendidikan dalam Islam menjadi ta’dib. Secara tegas, menurut al-Attas pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Dalam hal ini, “suatu proses penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai ‘pendidikan’ secara bertahap. Sedangkan, “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan; dan “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang, yang ini disebut dengan ta’dib.
Dengan demikian pendidikan Islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia baik individu maupun sosial untuk mengarahkan potensi baik yang sesuai dengan fitrahnya melalui proses intelektual dan spritual berlandaskan nilai Islam untuk mencapai kehidupan di dunia dan akhirat. Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar ‘transfer of knowledge’ ataupun ‘transfer of training’, tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi ‘keimanan’ dan ‘kesalehan’, yaitu suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan.
Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam merupakan suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Sosok pendidikan Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang membawa manusia kearah kebahagian dunia dan akhirat melalui ilmu dan ibadah. Karena pendidikan Islam membawa manusia untuk kebahagian dunia dan akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah ‘nilai-nilai Islam tentang manusia; hakekat dan sifat-sifatnya, misi dan tujuan hidupnya di dunia ini dan akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota masyarakat.
Semua ini dapat kita jumpai dalam al-Qur’an dan Hadits. Jadi, dapat dikatakan bahwa ‘konsepsi pendidikan model Islam, tidak hanya melihat pendidikan itu sebagai upaya ‘mencerdaskan’ semata (pendidikan intelek, kecerdasan), melainkan sejalan dengan konsep Islam tentang manusia dan hakekat eksistensinya. Maka, pendidikan Islam sebagai suatu pranata sosial, juga sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakekat keberadaan (eksistensi) manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah dan perbedaanya adalah terletak pada kadar ketaqwaan masing-masing manusia, sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif.

2. Hakikat Globalisasi
Menurut bahasa, global ialah seluruhnya, menyeluruh. Sedangkan globalisasi ialah pengglobalan secara keseluruhan aspek kehidupan, perwujudan secara menyeluruh disegala aspek kehidupan. Kemudian pengertian secara luas globalisasi adalah proses pertumbuhan negara-negara maju (Amerika, Eropa dan Jepang) melakukan ekspansi besar-besaran. Kemudian berusaha mendominasi dunia dengan kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, militer dan ekonomi.Bila dipelajari lebih jauh, globalisasi membawa pengaruh terhadap Negara-negara berkembang yang baru terlepas dari belenggu penjajahan, baik positif maupun negatif.
Pengaruh positif dari globalisasi yaitu membantu/mendorong negara-negara baru berkembang untuk maju secara teknis, serta menjadi lebih sejahtera secara material. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah munculnya teknokrasi yang sangat berkuasa, didukung oleh alat-alat teknik modern dan persenjataan yang canggih. Mengapa alat-alat dan teknik yang modern serta persenjataan menjadi pengaruh negatif. Karena seringkali bagi Negara yang berkuasa, mereka menyalahgunakan teknologi tersebut, seperti halnya ilmu pengetahuan, mesin-mesin, pesawat hyper modern yang digunakan/dijadikan mekanisme operasionalistik yang menghancurkan.
Globalisasi mengandung arti terintegrasinya kehidupan nasional ke dalam kehidupan global. Dalam bidang ekonomi, misalnya, globalisasi ekonomi berarti terintegrasinya ekonomi nasional ke dalam ekonomi dunia atau global. Bila dikaitkan dalam bidang pendidikan, globalisasi pendidikan berarti terintegrasinya pendidikan nasional ke dalam pendidikan dunia. Jadi dapat kita pahami bahwasanya maksud dari pendidikan Islam di era globalisasi ialah bagaimana pendidikan Islam itu mampu menghadapi perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan yang penuh dengan tantangan yang harus dihadapi dengan pendidikan yang lebih baik lagi.
Globalisasi merupakan suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga tidak tampak lagi adanya batas-batas yang mengikat secara nyata, sehingga sulit untuk disaring atau dikontrol. Adapun konsep globalisasi menurut pendapat para ahli adalah :
a. Malcom Waters
Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma didalam kesadaran orang.
b. Emanuel Ritcher
Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.
c. Thomas L. Friedman
Globlisasi memiliki dimensi ideology dan teknlogi. Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.
d. Princenton N. Lyman
Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan dan hubungan antara Negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan.
e. Leonor Briones
Demokrasi bukan hanya dalam bidang perniagaan dan ekonomi namun juga mencakup globalisasi institusi-institusi demokratis, pembangunan sosial, hak asasi manusia, dan pergerakan wanita

C. Masalah-Masalah Pendidikan Islam di Era Globalisasi
1. Masalah Kualitas Pendidikan
Dewasa ini globalisasi sudah mulai menjadi permasalahan aktual pendidikan. Permasalahan globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output pendidikan. Seperti diketahui, di era globalisasi dewasa ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang keunggulan suatu Negara, dari keunggulan komparatif (Comperative adventage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage).
Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas artinya dalam konteks pergeseran paradigma keunggulan tersebut, pendidikan nasional akan menghadapi situasi kompetitif yang sangat tinggi, karena harus berhadapan dengan kekuatan pendidikan global. Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa globalisasi justru melahirkan semangat cosmopolitantisme dimana anak-anak bangsa boleh jadi akan memilih sekolah-sekolah di luar negeri sebagai tempat pendidikan mereka, terutama jika kondisi sekolah-sekolah di dalam negeri secara kompetitif under-quality (berkualitas rendah).
2. Permasalahan Profesionalisme Guru
Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi telah menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan. Itu artinya guru merupakan variable penting bagi keberhasilan pendidikan. Menurut Suyanto, “guru memiliki peluang yang amat besar untuk mengubah kondisi seorang anak dari gelap gulita aksara menjadi seorang yang pintar dan lancar baca tulis yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi tokoh kebanggaan komunitas dan bangsanya”. Tetapi segera ditambahkan: “guru yang demikian tentu bukan guru sembarang guru. Ia pasti memiliki profesionalisme yang tinggi, sehingga bisa “di ditiru”
Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha sambilan, atau pekerjaan sebagai moon-lighter (usaha objekan). Namun kenyataan dilapangan menunjukkan adanya guru terlebih terlebih guru honorer, yang tidak berasal dari pendidikan guru, dan mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa melalui system seleksi profesi. Singkatnya di dunia pendidikan nasional ada banyak, untuk tidak mengatakan sangat banyak, guru yang tidak profesioanal. Inilah salah satu permasalahan internal yang harus menjadi “pekerjaan rumah” bagi pendidikan nasional masa kini.
3. Masalah kebudayaan (alkulturasi)
Kebudayaan yaitu suatu hasil budi daya manusia baik bersifat material maupun mental spiritual dari bangsa itu sendiri ataupun dari bangsa lain. Suatu perkembangan kebudayaan dalam abad moderen saat ini adalah tidak dapat terhindar dari pengaruh kebudayan bangsa lain. Kondisi demikian menyebabkan timbulnya proses alkulturasi yaitu pertukaran dan saling berbaurnya antara kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Dari sinilah terdapat tantangan bagi pendidikan-pendidikan islam yaitu dengan adanya alkulturasi tersebut maka akan mudah masuk pengaruh negatif bagi kebudayaan, moral dan akhlak anak. Oleh karena itu hal ini merupakan tantangan bagi pendidikan islam untuk memfilter budaya-budaya yang negatif yang diakibatkan oleh pengaruh budaya-budaya barat. (Arifin, 1994:42)
4. Permasalahan Strategi Pembelajara
Menurut Suyanto era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para peserta didik. Tuntutan global telah mengubah paradigma pembelajaran dari paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran baru. Suyanto menggambarkan paradigma pembelajaran sebagai berpusat pada guru, menggunakan media tunggal, berlangsung secara terisolasi, interaksi guru-murid berupa pemberian informasi dan pengajaran berbasis factual atau pengetahuan.
Dewasa ini terdapat tuntutan pergeseran paradigma pembelajaran dari model tradisional ke arah model baru, namun kenyataannya menunjukkan praktek pembelajaran lebih banyak menerapkan strategi pembelajaran tradisional dari pembelajaran baru. Hal ini agaknya berkaitan erat dengan rendahnya professionalisme guru.
5. Masalah Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sebagimana telah kita sadari bersama bahwa dampak positif dari pada kemajuan teknologi sampai kini, adalah bersifat fasilitatif (memudahkan). Teknologi menawarkan berbagai kesantaian dan ketenangan yang semangkin beragam. Dampak negatif dari teknologi moderen telah mulai menampakan diri di depan mata kita, yang pada prinsipnya melemahkan daya mental-spiritual / jiwa yang sedang tumbuh berkembang dalam berbagai bentuk penampilannya.
Pengaruh negatif dari teknologi elektronik dan informatika dapat melemahkan fungsi-fungsi kejiwaan lainya seperti kecerdasan pikiran, ingatan, kemauan dan perasaan (emosi) diperlemah kemampuan aktualnya dengan alat-alat teknologi-elektronis dan informatika seperti Komputer, foto copy dan sebagainya.(Arifin,1991,hal: 9 )
Alat-alat diatas dalam dunia pendidikan memang memiliki dua dampak yaitu dampak positif dan juga dampak negatif. Misalnya pada pelajaran bahasa asing anak didik tidak lagi harus mencari terjemah kata-kata asing dari kamus, tapi sudah bisa lewat komputer penerjemah atau hanya mengcopy lewat internet. Nah dari sinilah nampak jelas bahwa pengaruh teknologi dan informasi memiliki dampak positif dan negatif
6. Tantangan era globalisasi terhadap pendidikan agama Islam di antaranya, ‎krisis moral.
Melalui tayangan acara-acara di media elektronik dan media massa lainnya, ‎yang menyuguhkan pergaulan bebas, sex bebas, konsumsi alkohol dan narkotika, ‎perselingkuhan, pornografi, kekerasan, liar dan lain-lain. Hal ini akan berimbas pada ‎perbuatan negatif generasi muda seperti tawuran, pemerkosaan, hamil di luar nikah, ‎penjambretan, pencopetan, penodongan, pembunuhan oleh pelajar, malas belajar dan ‎tidak punya integritas dan krisis akhlaq lainnya.‎
7. Dampak negatif dari era globalisasi adalah krisis kepribadian. ‎
Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di suatu negara yang menyuguhkan ‎kemudahan, kenikmatan dan kemewahan akan menggoda kepribadian seseorang. Nilai ‎kejujuran, kesederhanaan, kesopanan, kepedulian sosial akan terkikis‎. Untuk ini sangat ‎mutlak diperlukan bekal pendidikan agama, agar kelak dewasa akan tidak menjadi ‎manusia yang berkepribadian rendah, melakuan korupsi, kolusi dan nepotisme‎, ‎melakukan kejahatan intelektual, merusak alam untuk kepentingan pribadi, menyerang ‎kelompok yang tidak sepaham, percaya perdukunan, menjadi budak setan dan lain-lain.‎
Faktor pendorong adanya tantangan di atas dikarenakan longgarnya pegangan ‎terhadap agama dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, kurang efektifnya pembinaan ‎moral yang dilakukan oleh kepala rumah tangga yaitu dengan keteladanan dan ‎pembiasaan, derasnya arus informasi budaya negatif global diantaranya, hedonisme, ‎sekulerisme, purnografi dan lain-lain, Selain adanya hambatan akibat dampak negatif era global juga terdapat ‎tantangan pendidikan agama Islam untuk membekali generasi muda mempunyai kesiapan ‎dalam persaingan.
Kesiapan itu Deliar Noer memberikan ilustrasi ciri-ciri manusia yang ‎hidup di jaman global adalah masyarakat informasi yang merupakan kelanjutan dari ‎manusia modern dengan sifatnya yang rasional, berorientasi ke depan, terbuka, ‎menghargai waktu, kreatif, mandiri dan inovatif ‎ juga mampu bersaing serta menguasai ‎berbagai metode dalam memecahkan masalah ‎. ‎Dengan demikian pendidikan agama Islam dituntut untuk mampu membekali ‎peserta didik moral, kepribadian, kualitas dan kedewasaan hidup guna menjalani ‎kehidupan bangsa yang multi cultural, yang sedang dilanda krisis ekonomi agar dapat ‎hidup damai dalam komunitas dunia di era globalisasi.‎

D. Kesimpulan
Pendidikan merupakan aktivitas yang diorientasikan kepada pengembangan individu manusia secara optimal. Berkaitan dengan uraian di atas, maka perlu dikemukakan disini konsep dasar pendidikan Islam yang mengacu kepada pengertian dan tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Sedangkan tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri adalah terwujudnya menusia sempurna.
Globalisasi mengandung arti terintegrasinya kehidupan nasional ke dalam kehidupan global. Bila dikaitkan dalam bidang pendidikan, globalisasi pendidikan berarti terintegrasinya pendidikan nasional ke dalam pendidikan dunia. Jadi dapat kita pahami bahwasanya maksud dari pendidikan Islam di era globalisasi ialah bagaimana pendidikan Islam itu mampu menghadapi perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan yang penuh dengan tantangan yang harus dihadapi dengan pendidikan yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, HM, Kapita Selekta Pendidikan, Bina Aksara, Jakarta.

Abbas Zainal Arifin, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama, (Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1984)

Ali M. Nashir, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Kalam Mulya, 1992), Cet. IV

Anshori Endang Saifuddin, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya : PT. Bina Ilmu Offset, 1987), Cet. VII

Daradjat Zakiah , Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta : Ruhama, 1998)

______________, Kepribadian Guru (Jakarta : Bulan Bintang, 1982), Cet. III

______________, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Bumi Aksara 2004), Cet I

______________, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara, 2004), Cet V

Depag, Al Quran dan terjemahnya (Jakarta : Proyek Pengadaan Kitab Suci, 1996/1997)

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1989)

Depdiknas, Pedoman Pembelajaran di Taman Kanak-Kanak (Jakarta : Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2005)

_________, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi (Jakarta : Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2005)

Djamarah Saiful Bahri, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2005) Cet. III

Gunawan H. Ari, Sosiologi Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, 2003) Cet. III

Ibrahim R, Perencanaan Pengajaran (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2003) Cet. II

Junus Mahmud, Sejarah pendidikan Islam (Jakarta : Mutiara)

Mulyana, Dedy. 2004. Metoologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.