GELIAT KEBANGKITAN KAUM MUDA MUHAMMADIYAH
Oleh : Ahmad Amarullah, S. Pd. M. Pd
(Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Kemuhammadiyahan
Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Kaum muda Muhammadiyah melandasi kiprah perjuangannya pada cita-cita persyarikatan Muhammadiyah untuk menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sehingga seluruh aktivitas gerakan yang dilakukan diarahkan pada upaya akselerasi pencapaian tujuan tersebut. Sebagai rahim bagi kemunculan kader-kader pemimpin umat, maka dimensi keagamaan, keilmuan, dan kemasyarakatan yang menjadi inspirasi perjuangan Muhammadiyah selama ini harus dijadikan ruh dan spirit pergerakan Kaum Muda Muhammadiyah kini dan di masa-masa mendatang mengiringi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kini kader-kader muda persyarikatan Muhammadiyah semakin dituntut kepeloporannya seiring perkembangan amal usaha dan tantangan-tantangan yang dihadapi Muhammadiyah sebagai penyandang status organisasi modernis yang selalu berdiri di garda terdepan dalam menjawab problem-problem manusia modern. Untuk tujuan tersebut, Muhammadiyah dituntut mempersiapkan kader-kader ulama yang intelektual dan intelektual yang memiliki kearifan ulama. Di sinilah eksistensi Kaum Muda Muhammadiyah menjadi pertaruhan untuk menjaga martabat dan kesinambungan regenerasi ulama di masa mendatang.
Geliat kebangkitan
Dalam skala nasional, akhir-akhir ini anak-anak muda Muhammadiyah memang sedang mendapat perhatian banyak kalangan. Rubrik opini harian-harian nasional diramaikan oleh munculnya penulis-penulis muda yang mengatasnamakan intelektual muda Muhammadiyah. Hampir tiap hari, bahkan kadang-kadang sehari bisa dua atau tiga tulisan, koran-koran nasional menampilkan mereka dengan identitatas Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Berbagai macam analisis mereka lontarkan ke publik, bukan hanya analisis keagamaan, tapi juga politik dan sosial.
Fenomena ini tak pelak menerbitkan harapan baru bahwa kultur intelektualitas di kalangan kaum muda Muhammadiyah terus mengalami grafik yang dinamis dan tidak pernah surut. Setelah era Amin Rais, Syafii Ma’arif, Dien Syamsuddin, Abdul Munir Mulkhan, Amin Abdullah, Muslim Abdurrahman, Haedar Nashir dan tokoh-tokoh ulama intelektual Muhamamdiyah lainnya masih berkibar di pentas nasional, Muhammadiyah telah melahirkan kader-kader intelektual mudanya yang diharapkan kelak memiliki kualifikasi ulama intelektual dan mewarnai panggung dinamika kehidupan berbangsa pada masanya kelak.
Kaum muda Muhammadiyah seperti Ahmad Najib Burhani, Sukidi, Piet Hizbullah Khaidir, Ahmad Fuad Fanani, Izza Rohman Nahrowi, Abdul Muid Nawawi, Zainal Muttaqin, Seif el-Jihadi dan sebagainya adalah figur-figur masa depan kebangkitan Muhammadiyah. JIMM sendiri bukan salah satu Ortom Muhammadiyah, namun anak-anak muda yang aktif di dalamnya banyak, kalau tidak semuanya merupakan alumnus dari organisasi struktural Muhammadiyah, baik Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Kaum Muda Muhammadiyah maupun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Bertebarannya analisis-analisis para penulis muda Muhammadiyah di berbagai harian nasional menjadi indikasi nyata, bahwa dinamika intelektualitas dan kebebasan berpikir selama berkiprah di Ortom-ortom Muhammadiyah memperoleh tempat istimewa. Meskipun kerap terjadi perbedaan cara pandang dalam memahami persoalan namun secara keseluruhan tokoh-tokoh Muhammadiyah memberikan keleluasaan bagi kader-kader mudanya untuk mengekspresikan gejolak intelektualitas dan memberi ruang kebebasan berpikir namun dengan tetap menjaga khithah perjuangan Kaum Muda Muhammadiyah.
Khittah perjuangan
Secara etimologis, khittah berasal dari derivasi bahasa Arab, yang berarti rencana, jalan, atau garis. Dengan demikian, khittah perjuangan dapat diartikan sebagai rencana, jalan, atau garis perjuangan Kaum Muda Muhammadiyah dalam mewujudkan misi dan cita-cita gerakannya. Khittah perjuangan Kaum Muda Muhammadiyah berisi pokok-pokok pikiran yang diharapkan dapat menjadi garis perjuangan gerakan Kaum Muda Muhammadiyah ke depan. Di dalam rumusan Khittah Perjuangan ini terkandung aspek pembaruan sekaligus kesinambungan.
Aspek pembaruan diarahkan pada upaya penegasan eksistensi Kaum Muda Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mampu menyelesaikan problematika umat Islam, khususnya mereka yang bernaung di bawah panji-panji persyarikatan Muhammadiyah. Sementara aspek kesinambungan merupakan upaya mempertahankan capaian-capaian positif yang selama ini dilakukan oleh Kaum Muda Muhammadiyah.
Melalui khittah, gerakan Kaum Muda Muhammadiyah diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemulihan krisis yang telah lama menghimpit sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena memang sudah saatnya Kaum Muda Muhammadiyah bangkit sebagai kekuatan terdepan di dalam merespon dan menyikapi dinamika zaman. Kaum Muda Muhammadiyah harus tekun, rajin, dan cerdas dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan problematikan kehidupan di hari esok.
Keberadaan khittah perjuangan sendiri tidak bermaksud memasung gejolak intelektualitas, mengekang kebebasan mengekspresikan jati diri apalagi membatasi gerak Kaum Muda Muhammadiyah untuk menyuarakan idealisme kecendekiaannya. Khittah perjuangan Kaum Muda Muhammadiyah justru berfungsi sebagai karakter, identitas dan jati diri Kaum Muda Muhammadiyah yang tetap melandasi dinamika pergerakannya dengan nilai-nilai etis yang luhur sehingga produk kerjanya berimplikasi secara positif dan konstruktif tidak saja untuk Muhammadiyah, tetapi demi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.
Dengan tetap berpijak pada koridor khittah perjuangannya, maka Kaum Muda Muhammadiyah dapat menjaga kesinambungan gerakan dalam dari generasi ke generasi. Bercermin dan mengambil pelajaran dari masa lalu untuk berbuat pada masa kini secara lebih sempurna serta mempersiapkan berbagai hal agar generasi yang akan datang makin tertantang untuk melakukan segala hal secara lebih baik lagi. Kontinuitas generasi hanya mungkin dilakukan apabila penenaman visi ideologis kemuhammadiyahan bisa berlangsung konsisten dan dipahami secara kolektif. Ini jelas menuntut kecerdasan intelektual, ketajaman nurani dan komitmen mewujudkan cita-cita luhur Muhammadiyah.
Bertolak dari realitas obyektif di atas, Kaum Muda Muhammadiyah dituntut untuk mewujudkan peradaban Islam masa depan dengan melakukan upaya-upaya rekonstruktif melalui upaya pembumian wahyu melalui kontekstualisasi ajaran Islam. Kontekstualisasi ajaran Islam tentu saja harus dibarengi dengan upaya eksplorasi ilmu pengetahuan (scientific exploration). Di samping itu, Kaum Muda Muhammadiyah juga harus mengambil peran dalam upaya mencari penemuan-penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan (scientific discovery). Dengan ilmu pengetahuan yang berorientasi ilahiyah-lah, tatanan kebudayaan dan peradaban dunia dapat diwujudkan secara baik. Wallahu a’lam bishsowwab!