BERLAPANG DADA MENERIMA KRITIK
Oleh : H. Achmad Badawi, S. Pd. MM
Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Kota Tangerang

Ketika kita menempuh ujian, mendapat kegagalan, atau ketika terjadi suatu harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, kita tentu akan mengumpat dan menggerutu dalam hati, tidak bisa menerima sesuatu yang salah, gagal atau tidak sesuai dengan harapan yang ada. terkadang kita dirundung kesedihan dan penyesalan yang dalam kita tidak bisa berlapang dada dan ikhlas menerima semuanya, padahal kita sudah berusaha dan bekerja keras, tapi hanya sebatas ini yang kita dapat.
Ketika impian atau cita-cita itu tidak terwujud dalam kenyataan, kita harus berlapang dada. sebagai manusia yang bijaksana harus mampu menyikapi dan menerima kenyataan dengan lapang dada dan menyandarkan diri kepada kehendak Allah. Semua kejadian di dunia ini tidak akan pernah terlepas dari kehendak-Nya. Untuk itu, tidak terpenuhinya target merupakan salah satu hal yang lumrah dari proses keberlangsungan usaha manusia. Ada sebuah pesan hikmah yang mengatakan bahwa lapang dada adalah salah satu kunci sukses hidup seseorang.
Bagaimana tidak, dengan konsep lapang dada seseorang akan meluaskan dadanya seumpama samudera luas yang akan mengecilkan arti segala sesuatu yang mencemari kesucian, ketenangan samudra tadi. Sebuah hikmah yang sangat logis. air segelas akan mudah terkotori dengan setetes tinta hitam, tapi air dalam samudra tak akan terpengaruh atas gelontoran tinta padanya. Dan memang, kalimat lapang dada begitu gampang diucapkan, tapi praktiknya dalam kehidupan butuh kadar iman yang cukup tertempa.
Lebih-lebih lagi, berlapang dada dengan kritik. Kritik bagi sebagian orang boleh jadi membuat alergi dan marah, apalagi kalau kritikan itu terkesan asal kritik tanpa memberikan sebuah solusi. Banyak orang ketika dikritik merasa kecewa bahkan bahkan cenderung marah karena merasa apa yang diberikan atau dilakukannya sudah amat baik. Meskipun tidak sedikit dari kita yang menerima kritikan dengan baik dan cukup berlapang dada. Karena mereka beranggapan, kritik adalah koreksi atas hasil kinerja yang telah dilakukan, dan orang-orang seperti ini akan menjadikan kritik sebagai sesuatu yang bisa membawanya kearah yang lebih baik
Pujian tidak selamanya akan menjadi madu dalam kehidupan, bahkan kalau terlena maka pujian dapat menjadi racun yang mematikan. Dengan pujian, banyak orang berpuas diri dan lupa untuk berbuat atau berprilaku lebih baik lagi. Kritikan sebenarnya bukanlah racun meskipun rasanya pahit dan tidak mengenakkan hati maupun perasaan. Namun bagi mereka yang bisa menerima kritik dengan lapang dada, maka kritikan bisa menjadi obat untuk sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Karenanya kita perlu sangat berhati-hati dan jangan sampai bangga berlebihan apabila kita dipuji dan jangan terlalu bersedih apabila kita dikritik.
Dan merupakan tabiat alami manusia, sering sekali mengkritik kesalahan. Padahal sejatinya kritikan terhadap kesalahan bukanlah sebuah masalah yang membuat pusing tujuh keliling jika kita memandangnya dari sudut pandang yang tepat, bahkan dalam agama pun kita dianjurkan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Apalagi dipandang dari sudut kepemimpinan, menerima kritik adalah salah satu soft skill (keterampilan sederhana) yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin.
Bagaimana tidak, pemimpin adalah pusat perhatian dari sebuah komunitas. Gerak-gerik Sang Pemimpin selalu menjadi bahan pembicaraan bahkan gunjingan. Segala kebijakannya selalu ada celah untuk dikritisi dan dikomentari. Perkataannya laksana anak panah, yang sekali terucap tidak bisa dikembalikan lagi dari busurnya, sejarah merekamnya jadi janji. Maka pemimpin yang mendapatkan kritik adalah sebuah keniscayaan. Menjadi pemimpin berarti siap dengan kritikan. Segala sesuatu yang kurang, yang miring, yang ganjil, yang rusak, yang hilang adalah kesalahan Sang Pemimpin. Semua seolah dibebankan di bahu Pemimpin.
Pemimpinlah yang harus mempertanggungjawabkan semuanya. Pemimpinlah yang harus mengisi yang kurang, menggenapkan segala yang ganjil, membenarkan segala yang rusak, meluruskan segala yang miring, menemukan segala yang hilang. Maka kewibawaan seorang pemimpin dapat terlihat dari menerima semua permasalahan sebagai hutang yang harus diselesaikan. Walau pada hakikatnya permasalahan yang ada belum tentu bersumber dari kebijakannya. Dan pemimpin yang bersahaja selalu menerima permasalahan tanpa mempersalahkan permasalahan itu pada orang lain. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang mampu menerima kritik dengan lapang dada dan tidak perlu marah. Semoga Allah menganugerahkan sikap legawa, lapang dada dan tetap mampu tersenyum dengan kritikan setajam apapun. Amien