AL-QUR’AN MASIH MELANGIT
Oleh : Zulpiqor, MA
(Ketua PDPM Kota Tangerang)

“Ketika yang memahami Al-Qur’an hanyalah Mufassir, maka saat itulah Al-Quran berada di langit tidak menyentuh bumi.” “Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim : 4)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf : 2)
Pada saat diturunkannya Al-Quran, Rasulullah Saw., menerima wahyu Allah dengan bahasa yang tidak dipahami oleh manusia, kadang-kadang berupa gemerincing suara lonceng, kadang kala dibalik tabir, dalam berbagai macam cara Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. kemudian Nabi menerimanya dengan berbagai macam keadaan pula, kadangkala sampai memekakkan telinga dan mengeluarkan keringat dingin.
demikianlah keadaan Rasulullah Saw. dalam menerima wahyu dari Allah SWT. Dengan melihat ayat QS. Ibrahim ayat 4 di atas, kita dapat memahami bahwa Rasulullah diutus dengan bahasa kaumnya, maka bahasa yang paling cocok adalah Bahasa Arab, bahasa Arab adalah bahasa kaumnya dimana Nabi lahir, maka Nabi kemudian menyampaikan wahyu tersebut kepada kaumnya menggunakan bahasa Arab, bahasa yang keluar dari lisan Nabi adalah bahasa Arab, maka kemudian para sahabat menghafal ayat yang baru turun itu dan menuliskannya dalam berbagai media yang bisa ditulis saat itu.
Setelah ayat Al-Quran itu turun sesuai dengan kelompok turunnya, ada yang satu ayat, ada yang lima ayat, sepuluh ayat bahkan satu surah, maka Nabi Saw. menjelaskan ayat-ayat itu melalui penafsiran beliau ……….. “Ketika Mufasir berlomba dalam kebaikan membuat kitab tafsir yang berjilid-jilid itu, disaat itulah prinsip kemanusiaan terhenti atau dimulai, karena terhentinya kreatifitas manusia untuk memahami”.
Kita tidak menyalahkan para Mufassir itu, justru kita harus sangat berterima kasih kepada para Mufassir karena dengan hadirnya kitab tafsir itu akan menambah referensi kita untuk lebih memahami Al-Quran. celakanya adalah kitab itu kemudian terhenti hanya sampai kepada menghasilkan sebuah kitab tafsir yang tebal itu saja. karena tidak ada kreatifitas individu manusia untuk dapat menyerap makna yang terkandung di dalamnya, yang pada akhirnya kitab tafsir itu hanyalah sebuah benda yang tidak mebawa perubahan apa-apa, tidak berharga sama sekali karena kitab itu baru akan berharga jika tersentuh oleh nurani dan interpretasi pembacanya, yang kemudian akan membawa pembacanya pada aksi-aksi humanis.
Al-Quran yang Membumi
Ketika suatu ayat turun kepada Nabi, kemudian Nabi menyampaikan ayat itu kepada para sahabat dengan redaksi dari Allah, dengan bahasa wahyu, maka Nabi Muhammad saw kemudian menjelaskan tafsirannya terhadap ayat yang baru turun tersebut dengan bahasa kaumnya. Apa yang disampaikan Nabi pada waktu itu kemudian dapat langsung dicerna oleh para sahabat dan kaumnya untuk kemudian diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, karena memang turunnya ayat tersebut sesuai dengan kebutuhan ummat (sesuai asbabunnuzul)dalam rangka menyelesaikan persoalan keumatan yang baru muncul.
Para sahabat Rasulullah itu, ketika menerima ayat Quran sekaligus tafsirannya dari Nabi, langsung menghafalnya dalam hati, menghayatinya karena memang benar-benar memahami setiap ayat itu dan memahami tafsirannya untuk kemudian serta merta menggelora kepada amal perbuatan, kerja nyata di dalam kesehariannya hidup bermasyarakat. apa yang didapatnya benar-benar teraplikasikan dalam kehidupan riil.
Setelah para sahabat yang pertama kali menerima ayat dari Nabi itu kemudian menyiarkan atau menyampaikannya kepada kaum muslimin secara berantai berikut penafsirannya sesuai dengan apa yang diterimanya dari rasul, mereka menduplikasi penyampaian tafsiran rasul terhadap suatu ayat. maka dengan tidak terlalu lama ayat Quran menyebar dan langsung dipahami oleh kaum muslimin
Usaha kita selanjutnya adalah menyelami lautan kitab tafsir itu, sampai kita mendapatkan mutiara-mutiara terindah dari Al-Quran yang dengan keindahannya akan selalu menghiasi kehidupan kita. sementara selama ini kita masih berenang-renang dipermukaannya saja sehingga tidak akan pernah mendapatkan mutiaranya. Sebenarnya masih ada yang harus kita lakukan setelah kitab tafsir itu ada. jangan malah terhenti kreatifitas kita ketika kitab tafsir itu hadir dihadapan kita.