JEJAK SANG PENCERAH
Oleh : Zulpiqor, MA
(Ketua PDPM Kota Tangerang)

Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah mendeklarasikan diri sebagai gerakan pembaharu (gerakan tajdid). Terobosan-terobosan yang dilakukan Muhammadiyah yang cukup kontroversial pada jamannya, sehingga K.H.A. Dalhan sempat dijuluki Kyai “kafir” karena gagasan-gagasannya berseberangan dengan kemapanan umat Islam pada waktu itu, gagasan-gagasan yang kontroversial itu kemudian dalam perjalanan sejarah diterima masyarakat seiring dengan perkembangan pola pikir umat Islam yang kian mengalami kemajuan, sehingga kini menempatkan Muhammadiyah dalam garda depan gerakan reformasi dan modernisasi Islam di Indonesia, disamping gerakan-gerakan modern lainnya, seperti Budi Utomo dan Syarekat Islam.
Dalam konteks sejarah reformasi yang pertama dilakukan adalah menggeser tradisi-tradisi tradisional yang kontra produktif terhadap kemajuan umat dan bangsa dan diganti dengan tradisi modern. Karena alam pikiran tradisionalis telah membelenggu kreatifitas ijtihad dengan dogma-dogma yang irrasional dan anti kemajuan sebagai sasaran pokok dengan berlandaskan kepada pemikiran-pemikiran rasional. Pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah telah banyak dirasakan oleh umat dan bangsa seiring dengan perjalanan gerakan Muhammadiyah yang sudah se-Abad ini (+100 tahun).
Akan tetapi dirasakan juga bahwa gerakan Muhammadiyah telah kehilangan relevansinya dengan problematika masyarakat modern sehingga kekuatan kritik Muhammadiyah sebagai kekuatan reformasi atas fenomena aktual menjadi semakin melemah. (Muhammadiyah Menuju Millenium III, Amien Rais dkk. Th.1999) Kemudian melemahnya gerakan infak bagi keluarga besar Muhammadiyah yang merupakan pengejawantahan dari gerakan Al-Maa’un semakin terlihat nyata, ini ditandai dengan makin sedikitnya warga Muhammadiyah yang mempunyai kesadaran untuk menyisihkan sedikit hartanya untuk pergerakan dakwah.
Kalau kita mau menengok kesejarahan para pendiri Muhammadiyah betapa ikhlasnya mereka menyisihkan hartanya untuk kepentingan pergerakan dakwah di Muhammadiyah bahu-membahu demi berdirinya sebuah mushollah atau bangunan pendidikan. Tapi yang kita lihat sekarang adalah “Ranting-Ranting yang kering” yang sebentar lagi akan “patah”. Karena semangat Al-Maa’un-nya yang menjadi spirit pergerakan kian meredup terkena dampak Hubud Dunia. Pertanyaannya adalah “Apakah kita yang berlaku Hubud Dunia?” atau kitalah pendusta agama, karena telah melupakan anak yatim dan tidak mau menolong fakir miskin? jawabannya ada pada setiap individu. Ada kesadaran untuk kembali kepada Khittahnya tetapi belum mengolektif, masih bersifat gradual dan parsial (terpecah-pecah) belum terbentuknya “kesadaran kolektif” untuk kembali kepada Khittah.
Disinilah pentingnya pembebasan dan pencerahan spiritualisasi diri dalam ber-Muhammadiyah agar nilai-nilai keikhlasan, ibadah, jihad fisabilillah, dan akhlak mulia harus tetap dijunjung tinggi dan menjadi basis ruhaniah yang kokoh dalam mengurus dan menggerakkan organisasi. (Manhaj Gerakan Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah dan Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, Th. 2009) Demikian tulisan ini dibuat sebagai pemantik untuk merefleksi, dan menghidupkan gerakan tajdid Muhammadiyah menjadi suatu keniscayaan dan menjadi sangat problematik jika tidak terdapat kesadaran bersama eksponen Muhammadiyah dalam menggulirkan gagasan tersebut. dan jika tidak mau kian meredup dan akhirnya “mati”, Wallahu A’lam Bisshawaab.